BEDELAU.COM --Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di wilayah Sumatera dan Kalimantan sudah berlangsung berbulan-bulan lamanya. Belum ada tanda-tanda bencana ini bisa diatasi, seiring peningkatan suhu dan musim kemarau yang makin tak bisa diprediksi.
Karhutla di wilayah Indonesia pada tahun 2026 ini bahkan telah mengusik negeri jiran Malaysia dan Singapura. Warga di kedua negara tetangga tersebut makin merisaukan dampak asap kiriman dari Indonesia.
Di dalam negeri, khususnya di Sumatera dan Kalimantan, dampak asap Karhutla makin parah. Jutaan rakyat terpapar asap, kasus ISPA melonjak gila-gilaaan.
Karhutla tak lagi sekadar menjadi masalah ekologi, namun telah merambah pada masalah kesehatan publik yang makin terancam.
Pada sisi lain, sektor ekonomi dan transportasi pun ikut terpukul. Puluhan penerbangan pesawat terpaksa ditunda dan batal. Mobilitas masyarakat terganggu secara signifikan.
Telah berbulan-bulan lamanya bencana Karhutla menerpa negeri ini, namun upaya keras pemerintah untuk mengendalikannya belum menemui titik terang. Hanya hujan kiranya yang mampu menaklukkan karhutla, meski beragam cara termasuk modifikasi cuaca dan operasi lapangan terus digencarkan. Namun, pemerintah pusat setakad ini belum menetapkan Karhutla 2026 sebagai bencana nasional.
Pernah Minta Karhutla Dijadikan Bencana Nasional
Warganet kini kembali mengungkit pernyataan yang pernah disampaikan Prabowo pada Oktober 2015 silam, tepat setahun usai dirinya kalah dalam kontestasi Pilpres melawan Jokowi. Kala itu, wilayah Sumatera dan Kalimantan juga tengah dihantam asap Karhutla.
Lewat akun Facebook resminya pada Rabu, 14 Oktober 2015 silam, Ketua Umum Partai Gerindra tersebut menyatakan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan di Sumatera dan Kalimantan kian memprihatinkan. Dia pun meminta agar statusnya dinaikkan jadi bencana nasional.
Menurutnya, banyak yang bertanya kepada dia soal bagaimana sikapnya terhadap kabut asap yang melanda.
"Demi mengatasi kabut asap yang terus merugikan sebagian rakyat Indonesia, saya menyarankan untuk menaikkan status tersebut menjadi bencana nasional," kata Prabowo dalam postingannya 11 tahun silam.
Ia meminta agar Karhutla 2015 dijadikan sebagai bencana nasional. Tujuannya, agar penanganan yang diberikan pemerintah pusat dan daerah dapat lebih maksimal.
"Karena dampak yang ditimbulkan sudah sangat memperihatinkan," kata Prabowo.
Perintahkan Fraksi Gerindra
Prabowo juga memberikan saran kepada pemerintah. Dalam menangani asap, menurutnya harus dibentuk kementerian khusus yang fokus menangani bencana alam seperti halnya di Rusia.
"Dengan memanfaatkan teknologi satelit, Kementerian Penanggulangan Bencana di Rusia bisa mendeteksi adanya titik-titik api, dengan begitu kebakaran hutan dapat dicegah," ucapnya.
"Selain itu, aparat penegak hukum juga harus berani melakukan investigasi agar para pelaku pembakar hutan mendapatkan sanksi dan hukuman yang sesuai," timpal Prabowo.
Prabowo saat itu mengaku telah memerintahkan anak buahnya di DPR RI lewat Fraksi Gerindra untuk terus memperjuangkan agar status masalah tersebut (asap) menjadi bencana nasional.
"Hal ini sangat penting, mengingat dampak yang ditimbulkan sudah sangat memperihatinkan," imbuh Prabowo.
Namun kini, setelah Prabowo memegang kendali kekuasaan pemerintahan, meski Sumatera dan Kalimantan terus dihajar Karhutla, Prabowo tak kunjung menetapkan kondisi saat ini sebagai bencana nasional.
Sumber: SM News.com