Kementerian Kebudayaan Tetapkan Istana Siak Jadi Museum Nasional

Selasa, 25 November 2025

Kementerian Kebudayaan tetapkan Istana Siak jadi Museum Nasional, foto: Riauaktual.com

BEDELAU.COM --Istana Asserayah Al-Hasyimiah atau Istana Siak resmi ditetapkan sebagai Museum Nasional oleh Kementerian Kebudayaan RI. Penetapan itu disahkan melalui Nomor Pendaftaran Nasional Museum (NPNM) 14.08.U.04.0368.

Keputusan tersebut tercantum dalam surat Kementerian Kebudayaan RI Nomor: 0977/L.L3/KB.13.02/2025 yang menindaklanjuti surat Dinas Kebudayaan Provinsi Riau Nomor: B/4/400.6.2/DISBUD/2025 tertanggal 12 November 2025.

Surat penetapan itu ditujukan kepada Dinas Kebudayaan Provinsi Riau dan diteruskan kepada Kepala Museum Istana Asserayah Al-Hasyimiah.

Kepala Dinas Pariwisata Siak, Tekad Perbatas Setia Dewa, menyebut penetapan ini merupakan hasil pengajuan resmi Dinas Pariwisata Siak melalui surat Nomor: 400.6.2/Dispar-DIP/192 a tanggal 6 November 2025.

"Penetapan ini setelah hasil verifikasi kita ajukan dinyatakan lengkap, dan menyatakan bahwa pengajuan Istana Siak menjadi Museum Nasional telah memenuhi syarat," ujar Tekad, Selasa (25/11).

Menurutnya, setelah ditetapkan sebagai Museum Nasional, Istana Siak kini berada di bawah tanggung jawab Dinas Kebudayaan Provinsi Riau dan Kementerian Kebudayaan.

"Setelah terdaftar ini, tahun depan akan ditetapkan kategori tipe museumnya, tipe C, B, atau A. Tipe tersebut berpengaruh pada besaran Dana Alokasi Khusus (DAK) dari kementerian per tahun," terangnya.

Ia menjelaskan, museum nasional juga berpeluang mendapatkan dukungan rehabilitasi sarana dan prasarana, mulai dari pembenahan interior hingga renovasi fisik. Kendati demikian, Pemda Siak tetap harus proaktif mengusulkan dan melobi anggaran ke pemerintah pusat.

Saat ini, terdapat dua situs cagar budaya peninggalan Kesultanan Siak yang telah berstatus museum nasional, yaitu Museum Balairung Sri dan Museum Istana Siak.

"Museum ini diakui secara nasional, dari sisi perawatan dan anggaran diprioritaskan," tegas Tekad.

Istana Asserayah Al-Hasyimiah, atau dikenal sebagai Istana Matahari Timur, dibangun pada tahun 1889 oleh Sultan Syarif Hasyim Abdul Jalil Syaifuddin—Sultan Siak ke-11 dan ayah dari Sultan Syarif Kasim II.

Sultan Syarif Hasyim merupakan putra Sultan Ismail dan wafat pada 1908. Setelah itu, Syarif Kasim II dinobatkan sebagai Sultan Siak pada usia 16 tahun.

Syarif Kasim II lahir di Siak Sri Indrapura pada 1 Desember 1893 dan wafat pada 23 April 1968 di Rumbai, Pekanbaru. Pada masa pemerintahannya, Kerajaan Siak dikenal tegas menolak dominasi Hindia Belanda. Ia terang-terangan menentang kekuasaan Sri Ratu Belanda sebagai pemimpin tertinggi kerajaan-kerajaan Melayu di Nusantara.

Sultan Syarif Kasim adalah tokoh penting pendukung kemerdekaan Indonesia. Setelah Proklamasi, ia secara resmi menyatakan Kesultanan Siak bergabung dengan Republik Indonesia. Ia bahkan menyumbangkan 13 juta gulden untuk membantu pemerintahan Indonesia di awal kemerdekaan.

Selain itu, ia juga berperan aktif membujuk raja-raja di Sumatra Timur agar ikut menyatakan dukungan kepada Republik Indonesia.

 

 

 

Sumber: Riauaktual.com