Rupiah Tersungkur Sendirian, Dolar AS Nyaris Sentuh Rp17.800 Bikin Pasar Panik

Senin, 25 Mei 2026

Ilustrasi kurs Dolar AS terhadap Rupiah Indonesia. (ist)/SM News.com

BEDELAU.COM --Perdagangan valuta asing kembali memerah untuk rupiah saat dolar AS makin garang, Senin, 25 Mei 2026. Mata uang Garuda ditutup melemah 27 poin menuju Rp17.744 per dolar AS setelah sepanjang hari bergerak liar. Situasi ini langsung membuat pasar ramai, perbankan menaikkan kurs jual dolar, sementara investor mulai gelisah melihat tekanan belum juga reda.

Di tengah mata uang Asia yang justru menghijau, rupiah tampak sendirian seperti kapal bocor di tengah badai. Baht Thailand menguat tajam, peso Filipina melesat, ringgit Malaysia ikut perkasa, sementara rupiah malah makin tertekan. Kondisi tersebut membuat pasar mulai bertanya apa sebenarnya yang sedang terjadi dengan ekonomi domestik.

Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai tekanan terbesar datang dari Amerika Serikat yang kembali memainkan isu suku bunga tinggi. Salah satu gubernur Federal Reserve, Christopher Waller, memberi sinyal bahwa kenaikan suku bunga masih mungkin dilakukan jika inflasi kembali naik.

Pernyataan itu langsung membuat investor global buru-buru masuk ke aset dolar AS. “Kalau inflasi AS naik lagi, mereka tidak akan ragu menaikkan suku bunga,” ujar Ibrahim Assuaibi di Jakarta, Senin, 25 Mei 2026.

Pasar langsung membaca sinyal tersebut sebagai ancaman serius bagi mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia. Dolar AS kembali diburu investor karena dianggap lebih aman menghadapi ketidakpastian global. Akibatnya, tekanan terhadap rupiah makin deras sejak pagi perdagangan dibuka.

Padahal, pagi tadi rupiah sempat memberi harapan kecil kepada pasar. Mata uang Garuda sempat menguat menuju Rp17.696 per dolar AS sebelum akhirnya terpeleset tajam siang hari. Tekanan jual terus datang hingga rupiah sempat menyentuh Rp17.760 sebelum ditutup sedikit lebih baik pada sore perdagangan.

Situasi makin terasa aneh karena mayoritas mata uang Asia justru sedang menikmati angin segar. Baht Thailand menguat 0,50 persen, rupee India naik 0,39 persen, sementara ringgit Malaysia ikut terapresiasi. Bahkan yuan China dan won Korea Selatan juga berhasil menekan dolar AS pada perdagangan hari ini.

Rupiah malah tampil seperti pemain yang tertinggal sendirian di lintasan. Banyak analis melihat tekanan domestik sebagai penyebab utama mengapa rupiah gagal ikut menikmati sentimen positif global. Salah satu sorotan terbesar datang dari defisit transaksi berjalan Indonesia yang kembali membengkak.

Data Bank Indonesia menunjukkan defisit transaksi berjalan kuartal pertama 2026 mencapai US$4 miliar. Angka tersebut menjadi salah satu yang terbesar dalam enam tahun terakhir. Kondisi itu membuat kebutuhan dolar AS di dalam negeri makin tinggi dibandingkan dengan pasokan yang tersedia.

Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai investor mulai khawatir terhadap kondisi eksternal Indonesia. Selain defisit transaksi berjalan, pasar juga mulai mengantisipasi kenaikan suku bunga Bank Indonesia dalam waktu dekat.

Situasi tersebut membuat investor memilih menunggu sambil mengurangi risiko. “Investor masih menghindari obligasi Indonesia karena tekanan global dan domestik,” ujar Lukman Leong, Senin, 25 Mei 2026.

Bank Indonesia sebenarnya sudah bergerak cukup agresif menjaga stabilitas rupiah. Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, menjelaskan bank sentral telah melakukan berbagai intervensi pasar. Mulai dari stabilisasi pasar uang hingga pembatasan pembelian dolar tanpa dokumen pendukung.

Namun, tekanan global rupanya terlalu besar untuk ditahan sendirian. BI akhirnya menaikkan suku bunga acuan menjadi 5,25 persen demi membuat instrumen rupiah kembali menarik. Langkah tersebut diharapkan mampu menarik aliran modal asing ke pasar keuangan domestik.

“Kenaikan BI Rate dilakukan karena situasi global higher for longer,” kata Destry Damayanti dalam konferensi ekonomi di Jakarta. 

Meski suku bunga naik, rupiah tetap belum mampu bernapas lega. Investor asing masih melihat risiko global terlalu tinggi, terutama setelah pasar mulai memperkirakan The Fed mempertahankan bunga tinggi hingga akhir 2026. Situasi tersebut membuat dana asing memilih untuk parkir di aset dolar AS.

Di sisi lain, pasar sebenarnya sempat mendapat kabar baik dari Timur Tengah. Amerika Serikat dan Iran dikabarkan hampir mencapai kesepakatan terkait Selat Hormuz. Harapan perdamaian membuat harga minyak dunia turun dan memicu optimisme pasar global.

Namun, Ibrahim Assuaibi melihat peluang kesepakatan tersebut belum tentu berjalan mulus. Masalah uranium Iran dan dana lama yang dibekukan masih menjadi penghambat serius. Jika negosiasi gagal, pasar global bisa kembali diguncang ketidakpastian baru. “Perdamaian ini kemungkinan masih bisa gagal total,” ujar Ibrahim Assuaibi.

Kondisi rupiah yang melemah juga langsung terasa di bank-bank besar nasional. Kurs jual dolar AS terus naik mengikuti tekanan pasar spot. Di Bank BRI, kurs jual dolar mencapai Rp17.870, sementara Bank Mandiri menyentuh Rp17.810.

BNI menjual dolar di kisaran Rp17.800, sedangkan BCA berada pada level Rp17.740. Angka tersebut membuat masyarakat mulai kembali menghitung biaya perjalanan luar negeri, cicilan impor, hingga kebutuhan pendidikan internasional. Dolar mahal selalu punya efek domino panjang pada banyak sektor.

Tekanan rupiah kali ini bahkan disebut sebagai salah satu yang paling menyedihkan sepanjang tahun. Banyak pelaku pasar mulai khawatir rupiah bisa mendekati Rp17.800 per dolar AS dalam waktu dekat. Jika sentimen global belum membaik, level psikologis baru kemungkinan akan diuji pasar.

Analis juga melihat pelemahan rupiah tidak lagi sekadar faktor global. Pasar mulai mencermati kondisi fiskal domestik, defisit anggaran, hingga arus modal asing yang mulai keluar perlahan. Kombinasi itu membuat rupiah seperti terus berjalan di atas jalan licin.

Meski begitu, sebagian ekonom masih melihat peluang pemulihan tetap terbuka. Penurunan harga minyak dunia dapat membantu mengurangi tekanan impor energi Indonesia. Selain itu, stabilisasi pasar obligasi juga diharapkan mampu menarik kembali minat investor asing.

Untuk sementara, pasar masih menunggu data ekonomi Amerika Serikat beberapa hari ke depan. Data inflasi, produk domestik bruto, hingga pengeluaran konsumsi pribadi akan menjadi penentu arah suku bunga The Fed selanjutnya. Jika data panas kembali muncul, tekanan terhadap rupiah kemungkinan makin berat.

Kini mata uang Garuda sedang berada dalam fase paling rapuh. Setiap komentar pejabat Federal Reserve langsung mengguncang pasar domestik. Sementara investor terus mengawasi apakah Bank Indonesia mampu menjaga rupiah tetap bertahan di tengah tekanan global yang makin brutal.

 

 

 

Sumber: SM News.com