Antrean BBM Riau Mengular, SF Hariyanto Kini Tagih Pertamina: Jangan Main-Main!

Kamis, 08 Oktober 2026

Plt Gubernur Riau SF Hariyanto menerima Executive General Manager Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut, Fanda Chrismianto, di Ruang Kerja Wakil Gubernur Riau, Kamis (8/10/2026). (sumber: istimewa)

BEDELAU.COM --Antrean BBM kembali mengular di sejumlah SPBU Riau, membuat urusan mengisi tangki berubah menjadi perjuangan panjang. Pemprov Riau kini menagih langkah konkret Pertamina. Pasokan diminta kembali lancar sebelum antrean mengganggu aktivitas warga.

Permintaan itu disampaikan Plt Gubernur Riau SF Hariyanto ketika bertemu dengan Executive General Manager Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut Fanda Chrismianto. Pertemuan berlangsung di Pekanbaru pada Kamis, 8 Oktober 2026.

Antrean disebut sudah berlangsung cukup lama di sejumlah wilayah Riau. Kondisi tersebut berpotensi mengganggu lalu lintas dan aktivitas masyarakat. Pemprov meminta distribusi diperbaiki sampai tingkat SPBU.

SF juga meminta pengawasan diperketat terhadap kemungkinan penimbunan BBM. Praktik semacam itu dinilai bisa memperburuk kondisi pasokan. Pemerintah ingin masyarakat menjadi pihak yang paling sedikit dirugikan.

“Jangan sampai masyarakat dirugikan,” tegas SF Hariyanto. Ia meminta setiap indikasi penyelewengan ditindak sesuai aturan. Pesan tersebut disampaikan saat kondisi antrean masih terjadi.

Persoalan solar sebenarnya sudah muncul sebelum pertemuan tersebut. Pada akhir September, Pemprov Riau mengirim surat meminta tambahan suplai. Antrean panjang terjadi di Pekanbaru dan sejumlah wilayah sekitar. 

Keluhan itu bahkan berkembang menjadi pembahasan mengenai kuota dan distribusi. DPRD Riau sebelumnya meminta pengawasan penyaluran diperkuat. Keterbatasan solar subsidi disebut menjadi salah satu pemicu antrean. 

Di lapangan, antrean kendaraan dilaporkan mencapai ratusan meter. Truk, bus, dan sepeda motor ikut menunggu pasokan. Beberapa antrean bahkan memakan badan jalan dan mengganggu aktivitas sekitar. 

Situasi tersebut membuat masalah BBM tidak lagi sekadar urusan tangki. Antrean panjang bisa berubah menjadi persoalan lalu lintas. Waktu warga ikut terkuras hanya untuk mendapatkan bahan bakar.

SF menilai kondisi itu terasa janggal bagi daerah penghasil minyak. Riau memiliki industri minyak dan gas yang besar. Karena itu, kebutuhan energi masyarakat lokal diharapkan tetap terjamin.

Pertamina menyampaikan situasi pasokan turut dipengaruhi kondisi global. Geopolitik Timur Tengah disebut memberikan tekanan terhadap ketersediaan BBM. Dampaknya dirasakan pada BBM subsidi maupun nonsubsidi. 

Untuk meredam tekanan tersebut, Pertamina meningkatkan pasokan menuju SPBU. Tambahan pasokan disebut mencapai sekitar 28 persen. Jumlah mobil tangki juga ditambah untuk memperkuat distribusi.

Fanda Chrismianto memastikan Pertamina terus mengoptimalkan pelayanan energi. Ia juga menekankan pentingnya koordinasi bersama pemerintah daerah. Menurutnya, distribusi energi membutuhkan dukungan berbagai pihak.

“Pertamina tidak bisa berjalan sendirian dalam pelayanan masyarakat,” ujar Fanda. Ia menilai koordinasi daerah menjadi bagian penting menjaga kelancaran distribusi. Masalah lapangan perlu segera dibahas bersama.

Persoalan LPG juga masuk dalam perhatian Pemprov Riau. Pemerintah ingin kebutuhan energi rumah tangga tetap tersedia. Kelancaran distribusi menjadi kunci agar antrean tidak berpindah bentuk.

Di sisi lain, harga BBM per 1 Oktober tidak mengalami perubahan. Pertamina menyebut harga subsidi dan nonsubsidi tetap seperti September. Pertalite tetap Rp10.000 per liter, sedangkan Biosolar Rp6.800 per liter. 

Artinya, antrean yang terjadi bukan berasal dari perubahan harga terbaru. Pemerintah kini lebih fokus pada pasokan dan distribusi. Pengawasan menjadi bagian penting untuk membaca persoalan di lapangan.

Pemprov juga meminta Pertamina menjelaskan kondisi pasokan secara terbuka. Data kuota dan distribusi dianggap penting untuk mengurai persoalan. Dengan data tersebut, titik masalah bisa ditangani lebih cepat.

Bagi pengendara, persoalannya sederhana sekaligus menyebalkan. Tangki kosong membutuhkan bahan bakar, bukan teori panjang. Antrean berjam-jam membuat kebutuhan harian ikut tersandera.

Kini tambahan pasokan 28 persen menjadi salah satu taruhan utama. Pertamina menyatakan langkah tersebut sedang dijalankan. Pemerintah daerah menunggu dampaknya terlihat pada antrean SPBU.

Jika distribusi kembali normal, antrean seharusnya ikut menyusut. Jika tidak, persoalan baru akan kembali muncul. Pemerintah dan Pertamina kini dituntut membuktikan langkah tersebut di lapangan.

Riau tidak kekurangan minyak dalam cerita besarnya. Tantangannya justru memastikan energi sampai kepada masyarakat. Sebab, BBM yang tersedia di atas kertas tidak cukup menggerakkan kendaraan.

 

 

Sumber: SM News.com