Cabai di Pekanbaru Tembus Rp110 Ribu per Kilogram

Sabtu, 10 Oktober 2026

Aktivitas pedagang di pasar tradisional di Pekanbaru. (sumber: antarafoto.com)

BEDELAU.COM --Di Pekanbaru, cabai merah keriting kini menagih harga seperti lauk pesta: Rp97.808 per kilogram rata-rata. Di Pasar Simpang Baru, angkanya menyentuh Rp110.000. Sementara di Pasar Tangor, pembeli masih menemukan harga Rp85.000.

Data TPID Kota Pekanbaru itu dihimpun dari 13 pasar tradisional pada Jumat (9/10). Harga cabai rawit merah juga tinggi, rata-rata Rp90.154 per kilogram. Di beberapa pasar, komoditas itu mencapai Rp100.000 per kilogram.

Jadi, cabai bukan cuma pelengkap sambal. Untuk sebagian keluarga, belanja bumbu kini meminta hitung-hitungan ekstra. Selisih harga antar-pasar pun cukup lebar, sehingga lokasi belanja ikut menentukan tebal tipisnya pengeluaran.

Cabai merah besar tercatat rata-rata Rp86.654 per kilogram. Harga tertinggi mencapai Rp100.000 di Pasar Simpang Baru. Di Pasar Cik Puan, harga terendahnya Rp80.000.

Angka tersebut berbeda dari kisaran Rp65.000–Rp70.000 dalam naskah awal. Data pantauan resmi kota pada 9 Oktober menunjukkan harga rata-rata cabai lebih tinggi. 

Di tengah harga cabai yang menggigit, beberapa bahan pangan bergerak lebih tenang. Beras SPHP tercatat Rp64.333 per kemasan lima kilogram. Harga beras premium Topi Koki rata-rata Rp17.350 per kilogram.

Bawang merah Solok berada di rata-rata Rp33.000 per kilogram. Bawang putih rata-rata Rp33.115 per kilogram. Daging sapi murni tercatat Rp147.917 per kilogram di pasar-pasar yang terpantau. Harga daging ayam ras justru tercatat Rp30.000 per kilogram. Telur ayam ras mencapai Rp53.700 per papan. 

Di rak minyak, Minyakita rata-rata dijual Rp16.242 per liter. Minyak goreng curah tercatat Rp20.750 per liter. Gula pasir kiloan rata-rata Rp19.500 per kilogram, dengan harga yang berbeda antar-pasar.

Angka-angka itu bukan satu harga seragam untuk seluruh Riau. Data TPID tersebut khusus menggambarkan Pekanbaru, berdasarkan pasar yang masuk pemantauan. Harga di kabupaten dan kota lain dapat berbeda.

Pemerintah Provinsi Riau mencoba menghadirkan pilihan yang lebih ringan. Pada 5–9 Oktober, operasi pasar murah berlangsung di lima lokasi Pekanbaru. Kegiatan tersebut merupakan operasi ke-188 sepanjang 2026, menurut pejabat Disperindagkop UKM Riau.

Di lapak intervensi itu, beras SPHP dijual Rp60.000 per kemasan lima kilogram. Beras Anak Daro dan Sokan ditawarkan Rp84.500 per lima kilogram. Sementara gula pasir dibanderol Rp18.000 per kilogram. Minyakita dijual Rp15.500 per bungkus. Telur tersedia Rp49.000 per papan. 

“Ini menjadi bagian dari komitmen Pemprov Riau dalam memastikan ketersediaan bahan pokok dan stabilitas harga di tengah masyarakat,” kata Kepala Bidang Perdagangan Dalam Negeri Disperindagkop UKM Riau, Tetty Nurdianti.

Pasar murah memberi alternatif, tetapi bukan tiket otomatis menuju harga cabai murah. Daftar komoditas yang disebut tersedia mencakup beras, gula, minyak, garam, dan telur. 

Di balik gejolak cabai, cuaca ikut masuk ke percakapan publik. BMKG memprediksi awal musim hujan 2026/2027 mundur di 529 Zona Musim, setara 61,08 persen wilayah Indonesia. El Niño kuat dan IOD positif berpotensi mengurangi curah hujan.

Riau bagian selatan diprediksi mengalami puncak musim hujan pada Januari 2027. Akan tetapi, informasi itu tidak membuktikan cuaca sebagai penyebab langsung kenaikan cabai di Pekanbaru. Perubahan harga juga perlu ditelusuri melalui pasokan, distribusi, dan data produksi.

Bagi pembeli, strategi paling praktis pekan ini sederhana: bandingkan harga sebelum berangkat, lalu sesuaikan belanja dengan kebutuhan. Untuk pemerintah, tantangannya bukan sekadar membuka lapak murah, melainkan menjaga pasokan dan memantau perubahan harga dari pasar ke pasar.

 

 

 

Sumber: SM News.com