SF Hariyanto Sebut Asap Riau Berasal dari Karhutla Sumsel dan Jambi

Ahad, 11 Oktober 2026

Plt Gubernur Riau, SF Hariyanto. (sumber: istimewa)

BEDELAU.COM --Langit Riau seperti rumah tanpa pagar: api bisa padam, tetapi asap tetap menyusup dari luar. Pemerintah Provinsi Riau mengklaim wilayahnya nihil kebakaran hutan dan lahan aktif. Di saat bersamaan, kabut asap masih menyelimuti sejumlah kawasan dan mengusik aktivitas warga.

Pelaksana Tugas Gubernur Riau SF Hariyanto menyebut asap berasal dari provinsi tetangga. Ia menunjuk Sumatera Selatan dan Jambi sebagai daerah yang masih menghadapi kebakaran. “Ini adalah kiriman dari tetangga,” ujarnya saat menjelaskan kondisi asap di Riau.

Pernyataan tersebut muncul ketika kebakaran di Sumatera Selatan masih menghasilkan ribuan titik panas. Data BMKG pada Sabtu, 10 Oktober 2026, mencatat 2.531 hotspot di Sumatera hingga pukul 23.00 WIB. Sumatera Selatan menyumbang 1.887 titik, disusul Jambi dengan 335 titik.

Bangka Belitung mencatat 189 titik panas dalam pemantauan yang sama. Sementara itu, Riau hanya memiliki tiga titik, masing-masing dua di Dumai dan satu di Pelalawan. Perbedaan angka itu memperlihatkan sebaran hotspot yang tidak merata antardaerah. 

Angka tersebut bukan berarti Riau boleh menutup buku kewaspadaan. Titik panas merupakan indikasi yang perlu ditindaklanjuti, bukan otomatis bukti setiap lokasi sedang mengalami kebakaran besar. Pemantauan lapangan tetap diperlukan untuk memastikan sumber panas dan mencegah api berkembang.

Sebelumnya, BMKG mencatat 4.127 hotspot di Sumatera pada Jumat pagi, 9 Oktober. Sumatera Selatan masih mendominasi dengan 3.328 titik, sedangkan Riau mencatat delapan titik. Data itu memperlihatkan jumlah hotspot dapat berubah dalam waktu singkat. 

Kondisi asap juga tidak selalu mengikuti jumlah titik panas lokal. Pada awal Oktober, BPBD Riau melaporkan kebakaran di sejumlah lokasi sudah padam setelah hujan mengguyur wilayah tersebut. Meski begitu, kabut asap masih bertahan dan diduga terbawa dari Sumatera Selatan. 

Bagi warga, asal asap mungkin terasa kurang penting ketika udara sudah mengganggu pernapasan. Laporan Riau Online sebelumnya menyebut kualitas udara Pekanbaru sempat masuk kategori sangat tidak sehat. Pemerintah kota bahkan menerapkan pembelajaran jarak jauh selama dua hari pada awal Oktober.

Hariyanto mengingatkan masyarakat agar menjaga diri dari paparan asap. Salah satu langkah yang disarankannya ialah menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan. Ia juga berharap kebakaran di wilayah tetangga segera terkendali agar asap berkurang.

Pemerintah Provinsi Riau belum memberikan bantuan langsung untuk penanganan kebakaran di provinsi tetangga. Hariyanto menyebut penanganan lintas wilayah menjadi ranah Badan Nasional Penanggulangan Bencana. Pernyataan tersebut menggambarkan pembagian peran, sementara asap tetap bergerak mengikuti kondisi atmosfer.

Masalahnya, asap tidak mengenal batas administrasi atau garis di peta. Kebakaran di satu provinsi dapat memengaruhi kualitas udara wilayah lain ketika angin membawa partikel asap. Karena itu, koordinasi pemantauan dan pengendalian lintas provinsi tetap penting.

BMKG juga mengingatkan masyarakat mengikuti perkembangan cuaca dan potensi hujan lebat. Petir serta angin kencang turut perlu diantisipasi di sejumlah wilayah Riau. Perubahan cuaca dapat memengaruhi aktivitas harian sekaligus kondisi kebakaran dan penyebaran asap.

Di Jambi, pemerintah daerah sebelumnya merencanakan operasi modifikasi cuaca untuk membantu penanganan karhutla. Upaya itu sempat terkendala jarak pandang rendah akibat asap tebal. Kondisi tersebut menunjukkan asap dapat mempersulit operasi penanggulangan yang justru dibutuhkan untuk menguranginya. 

Kini, klaim nihil karhutla di Riau berdampingan dengan kenyataan kabut asap yang belum sepenuhnya pergi. Tiga hotspot lokal tetap perlu dipantau, sementara ribuan titik di provinsi lain menjadi tantangan regional. Bagi warga, ukuran paling nyata ialah udara yang aman untuk dihirup.

Langit memang tak bisa disekat, seperti diakui Hariyanto. Tetapi risiko asap masih bisa dikurangi melalui pemadaman, pemantauan, koordinasi, dan perlindungan kesehatan masyarakat. Selama titik api masih menyala di Sumatera, Riau perlu menjaga kewaspadaan tanpa mengabaikan kondisi udara di rumah sendiri.

 

 

 

Sumber: SM News.com