Akan Dilantik Menjadi Wakil Bupati Siak, Ini Perjalanan Karir Husni Merza

Ahad, 20 Juni 2021

BEDELAU.COM --Jalan hidup siapa yang tahu. Meski ada keraguan dalam hati, namun jika semesta berkehendak maka apapun itu takkan menjadi penghalang. Barang itu akan tetap terjadi.

Husni Merza, seorang anak jati Siak harus ikhlas mengikuti kehendak orangtuanya agar bisa menjadi ahli agama ketika dia menamatkan Sekolah Dasar Negeri 002 Kampung Dalam, Siak.

Ayahnya Alm. H. Ibnu Khaldun dan Ibunya Almh. Darlina Malik memintanya melanjutkan tradisi dari kakak pertamanya yang juga menyantri di Pondok Pesantren Wali Songo, Ngabar, Jawa Timur.

Sebagai anak kedua dari lima bersaudara, Husni menyanggupi amanat tersebut. Diapun harus mengubur kenangan mandi di Sungai Siak dan mencari ikan sisa-sisa tangkapan nelayan di sana atau yang disebut Belit. 

Dijemput sepupunya dari Jakarta, Husni pada sekitar tahun 1987 harus rela terpisah jauh dari orangtua untuk menimba ilmu di Tanah Jawa. Perjalanan dua hari tiga malam ditempuh dimulai dari Siak menaiki bus hingga Pelabuhan Bakeuhuni, Lampung dan bus lainnya lagi ketika sampai di Merak, awal Pulau Jawa.

Perjalanan harus ditempuh meskipun diri merasa tak sanggup. Bahkan untuk berbahasa dengan orang luar saja dirinya masih belum fasih. Orang dari Pekanbaru saja tidak mengerti tutur katanya dengan logat Melayu Siak yang masih sangat kental. 

"Ada kawan sepupu saya dari Pekanbaru saja bilang, itu apa yang dikatakan adekmu? karena logat Siak saya yang masih kental, orang Pekanbaru saja tidak mengerti," ungkap Husni jelang dirinya dilantik menjadi Wakil Bupati Siak, Senin (21/6) esok.

Akhirnya keterbatasan itu hanya sendatan awal saja karena di pesantren dirinya berbaur dengan orang se-Indonesia. Mulai dari Aceh hingga Manokwari dirinya bergaul di pondok yang satu kamar isinya bisa 30 santri. 

Pada pesantren itu, Husni mengenyam pendidikan tingkat menengah pertama (Tsanawiyah) dan atas (Aliyah). Tak hanya menimba ilmu, Husni juga aktif di organisasi yang tergabung dalam Pelajar Islam Indonesia (PII). Dirinya pernah menjadi Sekretaris Umum Pengurus Daerah Ngabar pada tahun 1991-1992.

Usai mondok, Husni melanjutkan pendidikan tinggi masih di Tanah Jawa. Kali ini di Daerah Istimewa Yogyakarta. Ketertarikannya dengan ekonomi dan agama menjatuhkan pilihannya untuk menjadi mahasiswa di Syariah Banking Institute (SBI).

Dalam dunia kampus itu dia juga tidak meninggalkan dunia aktivis. Dirinya bahkan pernah menjadi Ketua Senat di SBI medio 1994-1995. Tamat dari sana dia mendapatkan informasi adanya penerimaan dari International Islamic University Malaysia (IIUM) atau Universitas Islam Antar Bangsa Malaysia. 

Namun untuk ke sana ada sejumlah persyaratan yang harus dipenuhi salah satunya harus lulus seleksi perguruan tinggi negeri atau institut agama Islam negeri (IAIN). Untuk seleksi perguruan tinggi negeri dirinya sudah tidak bisa lagi karena sudah kuliah tiga tahun di SBI Yogyakarta.

Akhirnya Husni mengikuti tes di IAIN Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru dan diterima. Dengan modal itulah Husni bisa memenuhi salah satu syarat di IIUM. Selain juga syarat fasih berbahasa Inggris yang diusahakannya.

Husni menjadi pelajar di Malaysia dengan jurusan bisnis administrasi dari 1997-2001. Di sana dia berkelindan dengan pergaulan internasional dari mahasiswa Islam berbagai negara. Bahan dari Benua Afrika seperti Mali dan Sudan. Dirinya juga bertutur bahwa sebagai orang Indonesia bangga dengan Mantan Presiden Baharuddin Jusuf Habibie yang dikagumi di ngeri tersebut.

Dalam masa itu dia yang masih tergabung dalam PPI mendapuk jabatan Wakil Ketua Umum PPI IIUM. Setelah itu diapun memperoleh titel Bachelor of Business Administration (BBA).

Balik ke Siak

Setelah menamatkan pendidikan di Malaysia tahun 2001, Husni kembali ke tanah kelahirannya, Siak Sri Indrapura. Saat memulai karir, dirinya kembali harus mengikuti pituah sang ayah yakni supaya tidak bekerja untuk orang apalagi menjadi pegawai negeri sipil.

Hari-hari dilalui Husni dengan menjadi kontraktor ikut sang kakak. Hingga akhirnya dia menangani pembangunan Islamic Center Siak yang juga menjadi pertemuan pertamanya dengan Gubernur Riau saat ini, Syamsuar. Diapun kemudian menjadi Manajer Yayasan Islamic Center Siak pada tahun 2005-2007.

Pada 2003 selanjutnya Husni mencoba peruntungan menjadi Komisioner Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Siak. Dia terpilih dan menjadi ketua hingga 2008. Pada masa itu dia menangani pesta demokrasi 2004 dan Pemilihan Kepala Daerah pertama di Siak tahun 2006. Selanjutnya dia juga kembali terpilih jadi komisioner KPU Siak, tapi tak lagi menjabat ketua.

Dalam masa bertengger di KPU Siak, Husni juga mengaktifkan diri di sejumlah organisasi. Diantaranya Ketua Kompartemen Ekonomi dan Usaha di Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Siak (2004-2009) dan Bendahara Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Siak 2006-2020.

Ketika menjadi Anggota KPU Siak periode kedua, dirinya juga sempat mendaftar menjadi Komisioner KPU Riau. Dirinya berada di peringkat keenam. Selanjutnya tahun 2009 dia diangkat menjadi Direktur Badan Usaha Milik Daerah PT Permodalan Siak (persi).

Tahun 2010 dia berkesempatan menjadi Pengganti Antar Waktu (PAW) anggota KPU Riau. Namun dirinya menolak dan memilih berkarir di PT Persi hingga 2019. "Jadi waktu itu yang PAW di KPU Riau adalah yang peringkat 7, saya peringkat 6 lebih memilih di PT Persi saja," sebutnya. 

Selama dirinya menjadi direktur tersebut, kegiatan organisasinya bertambah banyak. Mulai dari ketua Umum Ikatan Cendikiawan Muslim Se Indonesia (ICMI) Organisasi Daerah Siak (2009-2019), Ketua Komisi Pemberdayaan Ekonomi Umat Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Siak 2016-2021, Komisi Pengembangan dan Pemberdayaan Wakaf Badan Wakaf Indonesia (BWI) Perwakilan Kabupaten Siak (2016-2020), Ketua Departemen Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) Kabupaten Siak.
2018-2023: Ketua Asosiasi Perusahaan Sahabat Anak Indonesia (APSAI) Kabupaten Siak 2018-2020: Wakil Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Siak 2018-2023 dan baru-baru ini Ketua LPTQ Siak dan Masyarakat Ekonomi Syariah Siak.

Masuk Politik

Husni bercerita pada suatu ketika dia menunaikan ibadah Umroh tahun 2004, ada jemaah yang berkata padanya bahwasanya dia bakal jadi pemimpin di Siak. Hal tersebut tidak terlalu dipikirkannya karena merasa itu masih jauh. Terlebih lagi dia berprinsip bahwa untuk berpolitik harus matang secara ekonomi dulu.

Namun tanpa ada tanda, dirinya masuk ke dunia tersebut ketika terpilihnya Bupati Siak saat itu, Syamsuar menjadi Gubernur Riau pada tahun 2018 dan akan meninggalkan Siak pada 2019. Elemen-elemen di Siak riuh terkait siapa yang akan mendampingi Wakil Bupati Siak saat itu, Alfedri sepeninggalan Syamsuar.

Untuk itu Lembaga Adat Melayu Siak bermusyawarah untuk memberikan rekomendasi nama untuk pendamping Alfedri hingga masa jabatan habis tahun 2021. Kala itu tahun 2018, LAM Siak merekomendasikan dua nama yakni Sekretaris Daerah saat itu, Tengku Said Hamzah dan Husni Merza.

LAM Siak memberikan dua nama itu karena meminta wakil harus dari orang Siak. Husni bercerita ketika itu dirinya dihubungi apakah mau masuk nominasi.
"Saya bilang masukkan saja, entah bagaimana ceritanya LAM keluarkan  dua nama yakni Said Hamzah dan saya," cerita Husni.

Padahal katanya banyak juga tokoh Siak lainnya yang diusulkan. Menurutnya rekomendasi itu dikerucutkan pada PNS dan Non-PNS serta yang tidak ada afiliasi dengan partai politik. "Padahal bayangan saya selesai di Persi dua periode, akan ke BUMD lain PT Samudera Siak atau di provinsi," ujarnya.

Namun begitu Alfedri memilih tidak punya wakil hingga akhir jabatannya 2021 ini. Bola kemudian bergulir pada siapa pendamping Alfedri pada Pilkada Desember tahun 2020. Rekomendasi tetap pada dua orang itu Tengku Said Hamzah dan Husni Merza.

Dalam masa itu, Husni mengalami kegalauan karena ketidakpastian tersebut. Pasalnya baik dari Alfedri maupun Tengku Said Hamzah belum ada jawaban selama 2019 tersebut. 

"Saya tunggu balik haji tapi tak ada jawaban, saya galau, bisa-bisa bola ke saya. Saya temui sekda, dua jam bicara sampai cerita keuangan, saya bilang Abang saja lah maju, saya tak siap mental dan material," kisahnya.

Saat ulang tahun Kabupaten Siak Oktober 2019 dalam sidang paripurna di DPRD Siak juga bertemu Gubernur Riau, Syamsuar, Mantan Bupati Siak Arwin. "Saat itu Pak Arwin bisikkan Kalau Pak Said Hamzah tak jadi maju kamu harus siap, saya bilang belum, biarlah berkarir di BUMD," ulasnya lagi.

Selanjutnya memang bertemu lagi dengan Said Hamzah dan menyampaikan tak maju. Sebulan kemudian di malam Jumat ditelponlah Husni oleh Alfedri untuk datang ke rumahnya.

"Bayangan saya banyak orang Partai Amanat Nasional di sana tapi ternyata sepi, hanya kami berdua. Ngobrol dua jam ditanya apa siap saya jawab beri waktu satu dua hari untuk memantapkan hati," sambungnya.

Tapi Alfedri meminta jawaban malam itu juga hingga akhirnya diiyakan. Esoknya dia langsung ziarah ke makam ibunya, makam Sultan Siak dan meminta petunjuk kepada Pimpinan Pondok Pesantren Babusalam Pekanbaru, Syekh Haji Ismail Royan.

Husni selanjutnya mendampingi Alfedri pada kontestasi Pilkada Siak 2020. Pasangan tersebut kemudian menang dengan perolehan suara 56 persen dan dilantik pada Senin, 21 Juni 2021. Hal ini menjadikan juga Husni Merza sebagai satu-satunya bekas ketua maupun anggota KPU di Riau yang bisa menjadi kepala daerah.

 

Sumber: riauaktual.com