Kanal

Indro Tumbang! Gajah Legendaris Penjaga Tesso Nilo Mati Setelah 22 Tahun Hadapi Konflik

BEDELAU.COM --Seekor Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) jinak bernama Indro mati di Camp Elephant Flying Squad Balai Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN), Desa Lubuk Kembang Bunga, Kecamatan Ukui, Kabupaten Pelalawan, Provinsi Riau, Senin, 29 Juni 2026, pukul 03.45 WIB.

Satwa jantan berusia 45 tahun itu mengembuskan napas terakhir setelah menjalani penanganan medis intensif akibat komplikasi kesehatan pasca-fase musth. Kepergian Indro menjadi kehilangan besar bagi konservasi Gajah Sumatera setelah lebih dari dua dekade membantu penanganan konflik satwa liar di Riau.

Dini hari di Camp Elephant Flying Squad berubah menjadi suasana penuh duka. Dokter hewan, mahout, serta tim medis berusaha mempertahankan hidup Indro ketika kondisi tubuhnya tiba-tiba merosot.

Upaya penyelamatan berlangsung cepat. Pemeriksaan fungsi pernapasan dilakukan. Resusitasi jantung paru atau CPR diberikan selama beberapa menit. Semua ikhtiar berakhir tanpa hasil.

Kepala Balai Taman Nasional Tesso Nilo, Heru Sutmantoro, menyampaikan Indro dinyatakan mati setelah menjalani serangkaian penanganan medis bersama tim Balai TNTN dan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau.

"Indro mengalami komplikasi kesehatan setelah penurunan nafsu makan pasca-fase musth. Tim medis telah melakukan penanganan intensif hingga akhir hayatnya," kata Heru, Senin, 29 Juni 2026.

Kepergian Indro bukan sekadar kehilangan seekor gajah jinak. Selama 22 tahun terakhir, Indro menjadi salah satu ujung tombak Elephant Flying Squad, tim khusus yang bertugas meredam konflik antara manusia dan kawanan gajah liar di kawasan Tesso Nilo dan sekitarnya.

Indro dipindahkan ke Taman Nasional Tesso Nilo pada 2004 dari Pusat Latihan Gajah Minas. Sebelum memasuki pusat pelatihan, satwa itu diduga berasal dari populasi gajah liar yang dievakuasi akibat konflik dengan masyarakat.

Sejak saat itu, Indro menjalani pelatihan hingga dipercaya mendampingi petugas konservasi menghadapi berbagai operasi mitigasi konflik. Ketika kawanan gajah liar memasuki kebun warga atau permukiman, Indro menjadi salah satu gajah jinak yang diterjunkan untuk menggiring kawanan kembali menuju habitatnya.

"Indro dipindahkan pada 2004 dari Pusat Latihan Gajah Minas. Selama berada di Tesso Nilo, perannya sangat besar membantu penanganan konflik gajah," ujar Heru Sutmantoro.

Di Camp Flying Squad terdapat delapan gajah jinak yang bertugas bergantian dalam operasi lapangan. Setelah kematian Indro, jumlah gajah operasional tinggal tujuh ekor.

Perjalanan menuju akhir hidup Indro dimulai ketika satwa itu memasuki fase musth pada akhir April 2026. Musth merupakan periode peningkatan hormon reproduksi pada gajah jantan dewasa. Pada fase tersebut, perilaku satwa berubah drastis menjadi lebih agresif.

Tim konservasi mulai mencatat perubahan perilaku Indro sejak 25 April hingga 6 Mei 2026. Cairan reproduksi mulai keluar, tingkat agresivitas meningkat, serta respons terhadap mahout perlahan berubah.

Memasuki awal Juni, perubahan perilaku semakin terlihat. Indro tidak lagi menerima perintah dari mahout. Petugas bahkan tidak dapat mendekat karena risiko keselamatan meningkat.

Meski begitu, tim Flying Squad tetap menjaga kebutuhan harian satwa tersebut. Pakan berupa rumput gajah, batang pisang, pelepah kelapa, serta air minum terus diberikan dari jarak aman.

Fase musth Indro berlangsung lebih lama dibandingkan siklus normal. Kondisi tersebut membuat tim medis mengambil langkah tambahan.

Pada Selasa, 24 Juni 2026, Balai TNTN bersama BBKSDA Riau melakukan pembiusan agar rantai pengamanan tambahan dapat dipasang. 

"Sesudah prosedur selesai, penawar bius langsung diberikan hingga Indro kembali sadar dalam posisi berdiri stabil," jelas Heru Sutmantoro.

Harapan sempat muncul karena prosedur berjalan lancar. Kondisi itu tidak bertahan lama. Sehari setelah pembiusan, nafsu makan dan minum Indro turun sangat drastis. Tim medis langsung menerapkan pemantauan selama 24 jam tanpa henti.

Berbagai tindakan medis dilakukan. Dokter hewan memberikan terapi cairan, suplemen energi, pemeriksaan suhu tubuh, evakuasi feses secara manual, hingga pemasangan infus dalam jumlah besar.

Pada Minggu, 28 Juni 2026, secercah harapan kembali muncul. Indro mulai meminum air dan mencoba menyentuh pakan. Suhu tubuh juga berada dalam batas normal.  Untuk mempercepat pemulihan, tim medis memberikan sekitar 60 botol cairan infus. Harapan tersebut hanya bertahan beberapa jam.

Sekitar pukul 03.30 WIB, Senin dini hari, mahout menemukan Indro dalam posisi terbaring. Dokter hewan segera melakukan pemeriksaan darurat. CPR diberikan sesegera mungkin. Jantung Indro tidak memberikan respons. Pukul 03.45 WIB, satwa yang telah menjadi bagian penting konservasi Riau itu dinyatakan mati.

Kepala Subbagian Tata Usaha Balai TNTN, Dian Indriati, menjelaskan seluruh prosedur penyelamatan telah dilakukan sesuai standar medis satwa liar.

"Dokter hewan bersama tim mahout langsung melakukan pemeriksaan darurat dan resusitasi jantung paru. Indro tidak memberikan respons sehingga dinyatakan mati," kata Dian Indriati, Kepala Subbagian Tata Usaha Balai TNTN.

Sesudah kematian Indro, tim konservasi segera melaksanakan nekropsi atau bedah bangkai. Pemeriksaan dilakukan untuk memastikan penyebab kematian melalui analisis patologi laboratorium.

Sampel organ tubuh diambil secara lengkap sebelum bangkai dikuburkan sesuai prosedur konservasi di area Camp Elephant Flying Squad. Hasil laboratorium diharapkan memberi gambaran lebih rinci mengenai komplikasi kesehatan yang dialami satwa tersebut.

Kepergian Indro meninggalkan tantangan baru bagi Flying Squad. Selama lebih dari dua dekade, Indro menjadi gajah yang berulang kali diterjunkan saat konflik satwa muncul di sekitar kawasan Tesso Nilo.

Operasi penggiringan kawanan gajah liar menuju habitatnya menjadi salah satu tugas rutin yang dijalani. Perannya tidak tergantikan begitu saja. Bagi para mahout, Indro bukan hanya satwa binaan.

Indro merupakan rekan kerja yang tumbuh bersama mereka selama puluhan tahun. Jejak langkahnya ikut membentuk sejarah konservasi Gajah Sumatera di Riau. Kini langkah itu berhenti.

Yang tersisa adalah tujuh gajah Flying Squad lain yang akan melanjutkan tugas menjaga keseimbangan antara kehidupan satwa liar dan aktivitas manusia di sekitar Taman Nasional Tesso Nilo.

 

 

Sumber: SM News.com

Ikuti Terus Riaupower

BERITA TERKAIT

BERITA TERPOPULER