Pilihan
Silaturrahmi Akbar, IKA FIA Unilak Gelar Parade Musik dan Lagu
Ketua PWI Riau Buka Resmi Agenda OKK Calon Anggota Baru Tahun 2025
Bupati Bengkalis yang Tak Anti Kritik
Ciri Khas Warna Kuning, Masjid Kuning Miliki Sejarah Panglima Minal
Senang Lihat Potensi Jagung di Sela Sawit, Afni Janjikan Combine Harvest Corn untuk Petani Dayun
BEDELAU.COM --Di antara barisan tanaman sawit yang baru direplanting, hamparan jagung pipil tumbuh subur di Kampung Berumbung Baru, Kecamatan Dayun, Kabupaten Siak. Lahan yang sebelumnya menjadi bagian dari kebun sawit itu kini memberikan peluang baru bagi petani melalui pola tumpang sari.
Potensi tersebut menarik perhatian Bupati Siak Afni saat mengunjungi lahan budidaya jagung milik petani setempat, Jumat (2/10/2026). Ia melihat langsung proses budidaya sekaligus berbincang dengan petani mengenai hasil panen, luas lahan, hingga kendala yang masih dihadapi di lapangan.
Bagi Afni, pemanfaatan lahan replanting sawit untuk tanaman pangan seperti jagung menunjukkan bahwa masa peremajaan kebun tidak harus membuat lahan berhenti produktif.
"Ternyata potensinya di Dayun ini luar biasa. Kalau bisa, ini akan kita support supaya petani lain juga bisa memanfaatkan budidaya di sela tanaman sawit seperti ini," kata Afni.
Dalam kunjungan itu, Afni juga berdialog dengan sejumlah petani, salah satunya Sutarno, yang menjadi salah satu pionir budidaya jagung di Kampung Berumbung Baru.
Dari penuturan Sutarno, sedikitnya 30 hektare lahan di kampung tersebut kini telah dimanfaatkan untuk budidaya jagung secara tumpang sari. Lahan tersebut merupakan areal replanting sawit melalui program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR).
Menurut Afni, angka tersebut menunjukkan adanya ruang pengembangan yang cukup besar. Terlebih, potensi serupa bukan hanya terdapat di satu kampung.
"Lumayan luasan yang bisa digarap, dan itu baru satu kampung. Sementara ada kampung lain yang juga lahannya bisa ditumpangsarikan. Kalau petani juga memanfaatkan seperti Pak Sutarno ini tadi, hasilnya juga luar biasa," ujarnya.
Potensi itu semakin terlihat dari produktivitas yang mampu dihasilkan petani. Dalam kondisi budidaya yang baik, satu hektare lahan jagung di sela tanaman sawit dapat menghasilkan sekitar 6-7 ton jagung basah.
Afni mencontohkan hasil yang diperoleh Sutarno dari lahan seluas dua hektare. Dalam satu periode panen, lahan tersebut mampu menghasilkan lebih dari 10 ton jagung kering dengan nilai penjualan mencapai sekitar Rp60 juta. Masa budidayanya pun relatif singkat, yakni sekitar tiga bulan.
"Yang seperti ini perlu kita dukung. Selain swasembada pangan, ini juga menjadi peluang bagi petani. Seperti Pak Sutarno tadi, di lahan yang dua hektare ini kemarin dia bisa panen 10 ton lebih, dijual sampai Rp60 juta. Prosesnya kurang lebih tiga bulan," jelas Afni.
Bagi pemerintah daerah, pola seperti ini tidak hanya berbicara mengenai produksi pangan, tetapi juga bagaimana lahan perkebunan yang sedang memasuki masa replanting tetap dapat memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat.
Pemanfaatan lahan di sela tanaman sawit juga dinilai dapat menjadi pilihan bagi petani untuk tetap memperoleh pendapatan sembari menunggu tanaman sawit memasuki usia produktif.
Kendala Bukan Lagi Menanam, tapi Memanen
Namun, di balik hamparan jagung yang menjanjikan itu, petani masih menghadapi persoalan pada tahap akhir produksi. Bukan soal lahan maupun pasar, melainkan keterbatasan alat untuk memanen dan memipil jagung.
Saat ini, proses tersebut masih dilakukan secara manual. Kondisi itu membuat waktu panen menjadi panjang sekaligus meningkatkan biaya operasional.
Menurut Afni, petani menyampaikan bahwa proses memanen hingga memipil secara manual dapat membutuhkan waktu hingga sekitar 15 hari. Padahal, dengan dukungan mesin yang sesuai, proses tersebut dapat dilakukan jauh lebih cepat.
"Kalau manual bisa makan waktu 15 hari untuk panen dan pipilnya, belum lagi biayanya juga bengkak. Kalau ada combine-nya, satu hektare bisa selesai empat jam. Berarti sangat membantu jika alatnya ada," kata Afni.
Persoalan tersebut kemudian menjadi salah satu catatan penting yang dibawa Afni dari kunjungannya ke lahan petani.
Ia menyebut Pemerintah Kabupaten Siak akan berupaya mendorong bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) khusus untuk komoditas jagung. Salah satu alat yang dibutuhkan petani adalah combine harvest corn, mesin yang dapat membantu mempercepat proses panen sekaligus penanganan hasil jagung.
"Petani tadi minta alsintan untuk panen jagung, itu combine harvest corn. Sementara kita di Siak memang belum ada itu, yang ada cuma untuk padi. Ini nanti akan kita dorong ke Kementerian Pertanian supaya bisa dapat bantuan yang dibutuhkan petani, khususnya jagung," ujarnya.
Afni mengatakan kebutuhan tersebut akan disampaikan kepada Menteri Pertanian sebagai bagian dari upaya memperkuat pengembangan jagung di Siak.
Pasar Ada, Produksi yang Belum Terpenuhi
Bagi Sutarno, kunjungan Bupati Siak ke lahan jagungnya menjadi kesempatan penting untuk memperlihatkan langsung potensi sekaligus persoalan yang dihadapi petani.
Ia mengaku tidak menyangka orang nomor satu di Kabupaten Siak itu datang langsung melihat lahan yang selama ini mereka kelola.
"Kami juga tidak menyangka Bu Bupati mau datang berkunjung ke ladang kami. Kami berterima kasih atas kunjungannya. Ini tidak terlepas dari andil teman-teman PPL dan mitra kami. Ini pertanda baik bagi kami petani jagung karena menjadi momen untuk menyampaikan kendala yang kami alami dalam budidaya jagung," kata Sutarno.
Menurutnya, respons pemerintah daerah terhadap persoalan petani memberikan harapan baru bagi pengembangan komoditas jagung di Berumbung Baru.
Ia menyebut sejumlah catatan dan solusi yang disampaikan Afni diharapkan dapat segera ditindaklanjuti, terutama terkait kebutuhan alat panen.
"Alhamdulillah, Bupati sangat merespons dan memberi beberapa catatan serta solusi untuk kami. Semoga ini cepat terwujud sehingga kami bisa fokus meningkatkan produksi panen jagung kami," ujarnya.
Sutarno menilai peluang pengembangan jagung di Siak masih terbuka lebar. Apalagi, menurut dia, pasar untuk komoditas tersebut cukup luas.
Bahkan, permintaan dari para penampung disebut datang secara rutin setiap bulan. Persoalannya, produksi petani saat ini belum mampu memenuhi seluruh permintaan tersebut.
"Pangsa pasar jagung ini cukup luas, jadi para petani tidak perlu ragu untuk memasarkan produk. Ini saja banyak penampung yang minta rutin tiap bulannya, namun dengan kondisi produksi kami sekarang belum mampu terpenuhi," katanya.
Karena itu, ia berharap dukungan pemerintah tidak berhenti pada bantuan sarana produksi, tetapi juga dapat membuka ruang bagi semakin banyak petani untuk mengembangkan jagung di lahan replanting sawit.
Dengan dukungan alat panen dan pengembangan lahan yang lebih luas, Sutarno optimistis produksi jagung Siak dapat meningkat dan peluang pasar yang tersedia bisa dipenuhi oleh petani lokal.
Bagi petani Berumbung Baru, hamparan jagung di sela sawit bukan sekadar tanaman pengisi lahan. Ia menjadi gambaran bahwa masa replanting pun dapat tetap produktif sekaligus membuka jalan bagi penguatan pangan dan pendapatan petani di tengah kebun sawit yang sedang tumbuh kembali.
Sumber: cakaplah.com
PHR Hadirkan Jalan Mulus di Duri, Perkuat Akses Energi dan Mobilitas Masyarakat
BEDELAU.COM - Komitmen PT Pertamina Hulu Rokan (PHR).
DPRD Bengkalis Keluarkan Surat Dukungan Pemekaran Riau Bagian Pesisir
BEDELAU.COM --DPRD Kabupaten Bengkalis menyatakan me.
Disnakertrans Riau Buka Pelatihan Vokasi Gratis Batch 6, Ada 5 Kejuruan
BEDELAU.COM --Kabar baik bagi para pencari kerja di .
Pemko Pekanbaru Gerakkan Lahan Tak Produktif untuk Pertanian
BEDELAU.COM --Pemerintah Kota (Pemko) Pekanbaru, ter.
DBH Migas Siak Kena Sunat Lagi? Dari Rp400 Miliar, Kini Diproyeksi Rp40 Miliar
BEDELAU.COM --Dana Bagi Hasil (DBH) minyak dan gas b.
Satpol PP Jaring 5 Pasangan Muda-mudi, DPRD Pekanbaru Minta Pengelola Diperiksa
BEDELAU.COM --Satpol PP Kota Pekanbaru mengamankan l.








