• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
  • Home
  • Opini
  • Advertorial
  • Nasional
  • Daerah
    • Pekanbaru
    • Kampar
    • Pelalawan
    • Siak
    • Bengkalis
    • Dumai
    • Rohul
    • Rohil
    • Inhu
    • Inhil
    • Kuansing
    • Meranti
  • Dunia
  • Politik
  • Ekonomi
  • Peristiwa
  • Pemerintahan
  • More
    • Hukrim
    • Pendidikan
    • Olahraga
    • Video
    • Pilihan Editor
    • Terpopuler
    • Galeri
    • Indeks
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
Masukkan Kata Kunci atau ESC Untuk Keluar

Pilihan

  • +INDEX
Silaturrahmi Akbar, IKA FIA Unilak Gelar Parade Musik dan Lagu
Dibaca : 1e3 Kali
Ketua PWI Riau Buka Resmi Agenda OKK Calon Anggota Baru Tahun 2025
Dibaca : 1e3 Kali
Bupati Bengkalis yang Tak Anti Kritik
Dibaca : 1e3 Kali
Ciri Khas Warna Kuning, Masjid Kuning Miliki Sejarah Panglima Minal
Dibaca : 1e3 Kali
Hasil Putusan PTUN, Posisi Ketua DPRD Bengkalis Dikembalikan kepada Khairul Umam
Dibaca : 1e3 Kali

  • Home
  • Daerah
  • Siak

Dari Kebun Sawit Menuju Bulir Harapan, Keberanian Guru di Siak Menaklukkan Padi Gogo

Redaksi

Ahad, 10 Mei 2026 19:32:52 WIB
Cetak
Dari Kebun Sawit Menuju Bulir Harapan, Keberanian Guru di Siak Menaklukkan Padi Gogo

BEDELAU.COM --- Di sela hamparan kebun sawit di Kampung Sialang Sakti, Kecamatan Dayun, Kabupaten Siak, berdiri seorang guru matematika dengan mimpi yang bagi sebagian orang terdengar nyaris mustahil. Namanya Suparwoto, 56 tahun. Selama 36 tahun mengabdi sebagai ASN guru di SMP Negeri 2 Dayun, hidupnya tak pernah jauh dari dunia pendidikan. Namun di balik rutinitas mengajar angka dan rumus di kelas, ia menyimpan kecintaan lain, yaitu bercocok tanam.

Kecintaan itu perlahan tumbuh menjadi keberanian besar ketika ia mendengar tentang program replanting kelapa sawit yang mensyaratkan adanya tanaman ketahanan pangan. Informasi itu ia peroleh dari situs resmi Kementerian Pertanian. Dari situlah rasa penasarannya muncul.

Di tengah banyak petani yang lebih memilih bertahan di zona nyaman berkebun sawit, Suparwoto justru melihat peluang baru. Sebuah tantangan yang belum tentu berhasil, tetapi layak diperjuangkan.

"Kalau tidak ada yang mulai, kapan petani mau mencoba?" begitu kira-kira keyakinan yang ia tanam dalam dirinya.

Meski tidak memiliki kebun sawit sendiri, ia memberanikan diri menawarkan diri kepada Gapoktan Manunggal Sakti untuk ikut menggarap program tersebut. Ia mendapat izin memanfaatkan lahan sawit seluas enam hektare untuk menanam padi Gogo. Di sela tanaman sawit itulah, ia memulai perjalanan panjang menanam padi Gogo—varietas padi darat yang terbilang baru bagi petani di Siak.

Bukan petani berpengalaman, bahkan Suparwoto mengaku dirinya sama sekali belum pernah menanam padi sebelumnya. Namun keberanian sering kali lahir bukan karena seseorang merasa mampu, melainkan karena ia memilih untuk mencoba.

Motivasi terbesar datang dari sosok menantunya yang selama ini hidup dari hasil bertani padi. Dari situlah Suparwoto mulai percaya bahwa sawah, tanah dan bulir padi bisa menjadi sumber kehidupan yang nyata.

Ia lalu mempelajari banyak hal secara mandiri. Sebagai seorang guru yang terbiasa berpikir logis dan mencari solusi, Suparwoto tidak berhenti pada teori. Ia mulai merancang alat tanam sendiri di workshop sederhana di rumahnya. Alat untuk menandur padi Gogo itu ia beri nama Tabela Gogo, sebuah alat rakitan yang dirancang untuk mengeruk tanah sekaligus menebar benih secara otomatis agar pekerjaan lebih efektif dan efisien. Kreativitas itu lahir dari keterbatasan. Ia sadar tidak mungkin bekerja dengan cara biasa di tengah lahan perkebunan yang medan dan kondisi tanahnya jauh berbeda dengan sawah.

*Perjuangan Dimulai*

Bersama enam pekerja, Suparwoto menanam padi secara bertahap sejak Desember. Tak ada irigasi, tak ada aliran air melimpah seperti sawah pada umumnya. Seluruh pengairan 100 persen hanya bergantung pada hujan.

Padi Gogo memang dikenal tahan terhadap kondisi kering. Tetapi bukan berarti mudah ditanam.

Di lapangan, tantangan datang silih berganti. Struktur tanah di kebun sawit ternyata tidak merata. Ada bagian tanah yang subur, ada pula yang miskin humus. Akibatnya pertumbuhan tanaman tidak seragam.

Untuk menyiasatinya, Suparwoto harus memberikan perlakuan berbeda di tiap titik lahan. Tanah yang kurang subur diberi pupuk kandang dan pupuk cair tambahan. Semua biaya ditanggung sendiri. Mulai dari pupuk, obat-obatan hingga tenaga kerja, semuanya menggunakan dana pribadi karena tidak mendapat subsidi.

Namun lelaki itu tidak menyerah. Ia terus merawat tanamannya hingga memasuki masa generatif. Nutrisi diberikan penuh agar bulir padi dapat tumbuh maksimal.

Hari demi hari berlalu bersama harapan yang terus dipupuk di antara batang-batang sawit. Hingga akhirnya, Maret datang membawa kabar menggembirakan.

Padi Gogo yang semula diragukan, tumbuh menguning dan siap dipanen. Dari luas tanam tiga hektare itu, Suparwoto berhasil menghasilkan sekitar 2,3 ton gabah basah. Hasil yang menurutnya sangat baik untuk percobaan perdana di lahan perkebunan sawit.

Bagi sebagian petani, angka itu mungkin tidak masuk hitungan. Tetapi bagi Suparwoto, setiap bulir gabah adalah bukti bahwa keberanian mencoba tidak pernah sia-sia.

Panen itu pun disambut hangat. Pemerintah daerah, gabungan kelompok tani hingga aparat desa memberikan dukungan penuh. Bahkan panen raya digelar secara khusus dan dihadiri perwakilan Pemerintah Kabupaten Siak, Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan, TNI, hingga perangkat kampung setempat.

Di tengah suasana panen, Suparwoto berdiri dengan wajah penuh syukur. Seorang guru matematika yang tak pernah menyangka dirinya mampu menaklukkan tantangan menanam padi Gogo.

"Bagi saya ini membanggakan. Saya pemula, belum pernah tanam padi, tapi ternyata bisa sampai panen," ucapnya sederhana.

Kisah Suparwoto bukan sekadar tentang hasil panen. Ini adalah cerita tentang keberanian keluar dari kebiasaan. Tentang keyakinan bahwa sesuatu yang sulit bukan berarti mustahil dilakukan.

Di tengah dominasi sawit yang selama ini menjadi sandaran ekonomi masyarakat, ia menunjukkan bahwa lahan perkebunan pun masih bisa melahirkan bulir-bulir pangan.

Dan mungkin, dari keberanian satu orang guru di sudut Siak inilah, harapan baru tentang ketahanan pangan mulai tumbuh.

 

 

 

 

Sumber: cakaplah.com


[Ikuti Bedelau.com


Bedelau.com

BERITA LAINNYA +INDEKS

Daerah

Simpang Sebidang Hampir Rampung, Pembangunan Tugu Mulai Desember 2026

Jumat, 30 Oktober 2026 - 18:08:19 WIB

BEDELAU.COM --Pembangunan simpang sebidang Jalan Jen.

Daerah

Innova Ringsek Ditimpa Pohon di Sudirman, DLHK Pekanbaru Temukan Akar Bekas Dibakar

Jumat, 30 Oktober 2026 - 18:05:55 WIB

BEDELAU.COM --Sebuah pohon pelindung di median Jalan.

Daerah

Wako Agung Gandeng Kementerian PU, Danau Buatan Bakal Disulap dengan Wajah Baru

Jumat, 30 Oktober 2026 - 17:59:57 WIB

BEDELAU.COM --Pemerintah Kota (Pemko) Pekanbaru, ber.

Daerah

Pria 68 Tahun Ditemukan Meninggal Dunia di Rumahnya di Jalan Dorak Selatpanjang

Kamis, 29 Oktober 2026 - 08:00:00 WIB

KEPULAUAN MERANTI, BEDELAU.COM--Seorang pria berinis.

Daerah

Audiensi PAC Laskar RMRB Tandun ke PT KCL, Usulkan Pengembangan UMKM dan Lapangan Kerja

Rabu, 28 Oktober 2026 - 17:58:33 WIB

BEDELAU.COM – Pimpinan Anak Cabang (PAC) Laskar Ru.

Daerah

Aman Menjangkau 200 Ribu Orang, Agung Nugroho Perkuat Layanan Darurat Terpadu untuk Warga

Rabu, 28 Oktober 2026 - 19:24:06 WIB

BEDELAU.COM --Aplikasi Pekanbaru Aman telah menjangk.

TULIS KOMENTAR +INDEKS


Terkini

  • +INDEX
Bupati Asmar Lantik 29 Pejabat Pemkab Meranti, Tekankan Integritas dan Kinerja
31 Oktober 2026
Diduga Gunakan HP Saat Mengemudi, Ketua PP Siak Tabrak Tiga Motor, Satu Siswi Tewas
30 Oktober 2026
Simpang Sebidang Hampir Rampung, Pembangunan Tugu Mulai Desember 2026
30 Oktober 2026
Innova Ringsek Ditimpa Pohon di Sudirman, DLHK Pekanbaru Temukan Akar Bekas Dibakar
30 Oktober 2026
Stand Pendaftaran PRB 2027 Resmi Dibuka: Langkah Awal Menuju Ajang Kompetisi Sains
30 Oktober 2026
Wako Agung Gandeng Kementerian PU, Danau Buatan Bakal Disulap dengan Wajah Baru
30 Oktober 2026
Pria 68 Tahun Ditemukan Meninggal Dunia di Rumahnya di Jalan Dorak Selatpanjang
29 Oktober 2026
Singapura Ancam Putus Internet RI, Komdigi Ingatkan Kabel Laut Mereka Lewat Perairan Indonesia
28 Oktober 2026
Aman Menjangkau 200 Ribu Orang, Agung Nugroho Perkuat Layanan Darurat Terpadu untuk Warga
28 Oktober 2026
Izin Bar dan Diskotik HW Live House Dicabut Tahun Lalu, Pemprov Riau Koordinasi dengan Pemko
28 Oktober 2026

Terpopuler

  • +INDEX
  • 1 Nilai Putusan Komisi Informasi Riau Kontradiktif, Warga Gugat ke PTUN Pekanbaru
  • 2 JDIH Bawaslu Rohul Gelar Diskusi Hukum, Bedah Rekontruksi Pengawasan dan Antisipasi Kerawanan Pemilu di MK
  • 3 Ketua PAC RMRB Kabun Ingatkan Netralitas Panitia Pilkades Giti dan Aliantan
  • 4 Kawal Instruksi Wali Kota, Kabid SD Pastikan Gotong Royong Massal Bulanan Berjalan Penuh Semangat
  • 5 Pemkab Meranti Bahas Isu LGBT, Fokus pada Pencegahan dan Pemetaan Titik Rawan
  • 6 Jumat Berkah Subuh Hadir di Masjid Madinah Japakeh, Iskandar Idris Koordinasikan Gerakan Berbagi di Pidie Jaya
  • 7 Hadiri Rakornas TPAKD 2026, Bupati Asmar Dorong Perluasan Akses Keuangan Masyarakat Meranti

Ikuti Kami

Tentang Kami
Redaksi
Pedoman Pemberitaan
Info Iklan
Kontak
Disclaimer

Bedelau.com ©2021 | All Right Reserved