• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
  • Home
  • Opini
  • Advertorial
  • Nasional
  • Daerah
    • Pekanbaru
    • Kampar
    • Pelalawan
    • Siak
    • Bengkalis
    • Dumai
    • Rohul
    • Rohil
    • Inhu
    • Inhil
    • Kuansing
    • Meranti
  • Dunia
  • Politik
  • Ekonomi
  • Peristiwa
  • Pemerintahan
  • More
    • Hukrim
    • Pendidikan
    • Olahraga
    • Video
    • Pilihan Editor
    • Terpopuler
    • Galeri
    • Indeks
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
Masukkan Kata Kunci atau ESC Untuk Keluar

Pilihan

  • +INDEX
Silaturrahmi Akbar, IKA FIA Unilak Gelar Parade Musik dan Lagu
Dibaca : 1e3 Kali
Ketua PWI Riau Buka Resmi Agenda OKK Calon Anggota Baru Tahun 2025
Dibaca : 1e3 Kali
Bupati Bengkalis yang Tak Anti Kritik
Dibaca : 1e3 Kali
Ciri Khas Warna Kuning, Masjid Kuning Miliki Sejarah Panglima Minal
Dibaca : 1e3 Kali
Hasil Putusan PTUN, Posisi Ketua DPRD Bengkalis Dikembalikan kepada Khairul Umam
Dibaca : 1e3 Kali

  • Home
  • Hukrim
  • Pekanbaru

Plt Gubernur Riau: "Saya Tidak Ada Cium Tangan Bapak! Siapa Bapak Rupanya?"

Redaksi

Rabu, 03 Juni 2026 21:31:10 WIB
Cetak
Plt Gubernur Riau:
Ilustrasi dan infografis debat Abdul Wahid dan SF Harianto di PN Pekanbaru. Foto: SM News/Created by AI

BEDELAU.COM --Sidang dugaan korupsi yang menyeret Gubernur Riau nonaktif, Abdul Wahid, di Pengadilan Tipikor Pekanbaru menjadi arena pembongkaran hubungan politik yang gelap. Plt Gubernur Riau, SF Hariyanto, yang duduk sebagai saksi berdebat panjang dengan Abdul Wahid. Kisah lama keduanya pun terkuak di persidangan. 

Suasana panas sudah terasa sejak awal persidangan berlangsung. Abdul Wahid yang duduk sebagai terdakwa mendapat kesempatan untuk mengajukan pertanyaan kepada saksi. Saksi tersebut bukan sosok sembarangan. Di kursi saksi duduk SF Hariyanto yang menjabat Plt Gubernur Riau. Dulunya, SF Hariyanto adalah Wakil Gubernur Riau yang mendampingi Abdul Wahid.

Awalnya suasana terlihat tenang dan terkendali. Abdul Wahid membuka percakapan dengan nada santai. Ia mengaku senang akhirnya bertemu langsung dengan SF Hariyanto. Pertemuan itu terjadi setelah berbagai peristiwa besar mengguncang dunia politik Riau.

"Saya senang melihat Pak SF di sini. Sebelumnya belum pernah ketemu saat OTT," kata Abdul Wahid di hadapan majelis hakim.

Kalimat pembuka itu terdengar ringan. Namun, suasana berubah perlahan setelah pembahasan masuk ke masa Pilgub Riau. Abdul Wahid mulai mengungkit cerita lama saat keduanya membangun kekuatan politik bersama.

Pertanyaan yang muncul tampak sederhana. Namun, maknanya terasa cukup dalam. "Apakah saya meminta jadi gubernur?" tanya Abdul Wahid.

Pertanyaan tersebut sempat menarik perhatian majelis hakim. Hakim mempertanyakan keterkaitan pertanyaan itu dengan perkara utama. Meski demikian, saksi tetap diminta memberikan jawaban. Dari titik itu, cerita politik lama mulai terbuka satu demi satu.

SF Hariyanto menjelaskan bahwa dirinya sempat enggan maju dalam kontestasi politik. Saat itu masih ada pertimbangan etika birokrasi yang menurutnya penting dijaga. Mantan Gubernur Riau, Syamsuar, masih memiliki peluang maju kembali. Situasi tersebut membuat SF Hariyanto memilih menahan langkah.

"Saya disuruh maju berhadapan dengan kandidat dan Pak Syamsuar ingin maju. Pak Syamsuar atasan saya dan secara etika tidak bagus melawan atasan saya," ujar SF Hariyanto.

Menurut SF Hariyanto, situasi berubah ketika Syamsuar tidak lagi maju dalam kontestasi tersebut. Saat itulah nama Abdul Wahid mulai didorong untuk menjadi calon gubernur. Cerita itu menjadi salah satu potongan penting dalam hubungan politik keduanya.

Hubungan yang dulu tampak solid kini justru dipertanyakan di ruang sidang. "Di tengah perjalanan, Pak Syamsuar tidak maju jadi gubernur. Saya minta Abdul Wahid yang maju," kata SF Hariyanto.

Skema politik kemudian terbentuk. Abdul Wahid maju sebagai calon gubernur. SF Hariyanto berada di posisi calon wakil gubernur. Kesepakatan itu menjadi awal perjalanan politik yang sempat menarik perhatian masyarakat Riau. "Bapak maju dan saya wakil," ujar SF.

Namun, cerita tidak berhenti di masa kampanye. Persidangan kemudian bergerak menuju hubungan keduanya setelah memenangkan kontestasi politik. Pada bagian inilah suasana mulai berubah lebih tegang. Nada percakapan terasa semakin tajam.

Abdul Wahid menyinggung sikap SF Hariyanto setelah pelantikan. Ia mengungkap sejumlah kenangan yang menurutnya masih membekas hingga sekarang. Salah satunya terkait pertemuan yang sempat direncanakan pada bulan Ramadan. Momen itu kembali diangkat ke ruang sidang. "Saya masih ingat, Bapak ingin bertemu dengan saya setelah pelantikan," ujar Abdul Wahid.

Menurut Abdul Wahid, komunikasi saat itu berlangsung melalui telepon. Ada keinginan untuk bertemu secara langsung untuk membahas berbagai persoalan. Namun, rencana tersebut tidak berjalan mulus. Dari sinilah publik mulai melihat adanya jarak yang tumbuh di antara keduanya.

Persidangan semakin menarik ketika pembahasan bergeser ke dugaan rekaman pemeriksaan KPK. Abdul Wahid mengaku terkejut karena rekaman pemeriksaannya disebut pernah diperlihatkan kepada sejumlah orang. Tuduhan itu langsung membuat ruang sidang hening sesaat. Semua mata tertuju kepada saksi.

"Dia menunjukkan rekaman saya diperiksa KPK. Saya kaget, kok pemeriksaan KPK bisa ada," kata Abdul Wahid.

Pernyataan tersebut menjadi salah satu bagian paling menyita perhatian. Sebab isu itu menyentuh wilayah yang cukup sensitif. Abdul Wahid juga menyebut adanya ucapan tertentu yang menurutnya pernah disampaikan SF Hariyanto. Ucapan itu berkaitan dengan pengaruh dan jaringan kekuasaan.

Namun, SF Hariyanto langsung membantah tudingan tersebut. Jawabannya singkat tetapi tegas. Tidak ada ruang untuk penafsiran lain. "Tidak benar saya ucapkan itu," jawab SF Hariyanto.

Abdul Wahid kemudian kembali menyerang dengan pertanyaan lain. Kali ini terkait ucapan yang disebut pernah terlontar dalam pertemuan tertentu. Pertanyaan datang tanpa jeda panjang. Situasi persidangan semakin terasa seperti duel argumentasi.

"Ketua jangan macam-macam dengan saya, saya otaknya kotor. Pernah bilang itu?" tanya Abdul Wahid. "Tidak pernah," jawab SF singkat.

Bantahan demi bantahan membuat suasana semakin panas. Kedua tokoh tersebut terlihat mempertahankan versinya masing-masing. Tidak ada yang mau mundur. Setiap pertanyaan langsung disambut dengan jawaban tegas.

Puncak ketegangan muncul ketika Abdul Wahid menyinggung persoalan permintaan maaf. Ia bahkan menanyakan soal cium tangan yang menurutnya pernah terjadi. Pertanyaan itu langsung memancing reaksi spontan dari SF Hariyanto.

"Berapa kali bapak minta maaf ke saya dan cium tangan saya?" tanya Abdul Wahid. "Siapa bapak kiranya?" jawab SF Hariyanto tegas.

Kalimat itu membuat suasana ruang sidang semakin panas. Beberapa pengunjung sidang tampak memperhatikan jalannya dialog dengan serius. Tidak sedikit yang menganggap bagian tersebut sebagai momen paling dramatis sepanjang persidangan hari itu.

Abdul Wahid lalu mengungkit pertemuan yang pernah difasilitasi Kapolda Riau. Pertemuan itu disebut bertujuan memperbaiki hubungan keduanya. Foto pertemuan tersebut sempat beredar luas. Namun, kembali muncul perbedaan versi dalam penjelasan masing-masing.

"Saya tidak ada cium tangan bapak. Siapa bapak rupanya?" tegas SF Hariyanto.

Setelah itu pembahasan bergeser ke persoalan pemerintahan. Abdul Wahid membantah anggapan yang menyebut dirinya tidak pernah memberi tugas kepada wakil gubernur. Ia menyebut ada sejumlah saksi yang mengetahui fakta tersebut. Pernyataan itu kembali memunculkan perdebatan.

Namun, SF Hariyanto tetap pada pendiriannya. Ia mengaku merasa tidak banyak dilibatkan dalam pengambilan keputusan pemerintahan. Pengakuan tersebut menjadi petunjuk penting mengenai retaknya hubungan politik mereka.

"Disposisi surat tidak pernah. Diajak rapat eselon empat tidak pernah," kata SF Hariyanto.

Bagian ini menarik perhatian banyak pengamat politik. Sebab pernyataan tersebut menggambarkan adanya persoalan komunikasi di lingkaran pemerintahan. Konflik yang selama ini hanya terdengar sebagai rumor kini muncul langsung dalam persidangan terbuka.

Abdul Wahid juga menyinggung isu penunjukan Sekretaris Daerah Riau. Nama ulama Abdul Somad ikut disebut dalam percakapan tersebut. Pertanyaan itu kembali diarahkan kepada SF Hariyanto. Namun jawaban yang muncul tetap berupa bantahan. 

"Saya tidak pernah. Saya ke sana karena tokoh agama, tolong perbaiki hubungan kami," tegas SF Hariyanto.

Menjelang akhir dialog, suasana sedikit mereda. Namun, ketegangan masih terasa di ruang sidang. Abdul Wahid mencoba mencari jawaban atas penyebab renggangnya hubungan mereka. Pertanyaan itu kembali dilemparkan kepada saksi.

"Mengapa bapak marah, merasa saya tidak melibatkan bapak?" tanya Abdul Wahid. "Bapak saja yang jawab diri sendiri," sindir SF Hariyanto.

Jawaban singkat tersebut seolah menutup rangkaian dialog panjang keduanya. Tidak ada penjelasan tambahan. Tidak ada kalimat yang diperpanjang. Namun, maknanya cukup mengundang banyak tafsir.

Sidang hari itu akhirnya meninggalkan kesan kuat bagi publik. Perkara korupsi yang menjadi pokok utama tetap berjalan. Namun, perhatian masyarakat juga tertuju pada hubungan politik dua tokoh penting Riau. Hubungan yang dulu dibangun dalam satu perahu kini tampak terbelah di ruang pengadilan.

Persidangan juga memperlihatkan bagaimana konflik politik tidak selalu berakhir setelah pemilu selesai. Ada cerita panjang yang kadang tersimpan di balik layar kekuasaan. Ketika ruang sidang menjadi tempat pertemuan kembali, cerita lama itu bisa muncul tanpa diduga.

Rabu, 3 Juni 2026, menjadi hari ketika publik melihat sisi lain dari perjalanan politik Riau. Bukan melalui panggung kampanye. Bukan melalui konferensi pers. Melainkan dari saling tanya dan saling bantah di ruang pengadilan yang penuh sorotan.

 

 

 

Sumber: SM News.com


[Ikuti Bedelau.com


Bedelau.com

BERITA LAINNYA +INDEKS

Hukrim

Bongkar Dua Sindikat Curanmor, Polisi Bekuk 11 Pelaku di Pekanbaru

Kamis, 23 Juli 2026 - 20:47:33 WIB

BEDELAU.COM --11 orang pelaku curanmor berhasil di r.

Hukrim

Abdul Wahid Sebut JPU Jadi "Advokat" Dani, Replik Dinilai Penuh Narasi dan Asumsi

Kamis, 23 Juli 2026 - 20:10:04 WIB

BEDELAU.COM --Gubernur Riau nonaktif Abdul Wahid mel.

Hukrim

Kejati Riau Geledah Disdik, Tiga Boks Dokumen Dugaan Korupsi Smart Board Disita

Kamis, 23 Juli 2026 - 19:57:47 WIB

BEDELAU.COM --Tim Penyidik Bidang Tindak Pidana Khus.

Hukrim

Polda Riau Bongkar Praktik Penyalahgunaan BBM Subsidi di Rohil

Rabu, 22 Juli 2026 - 19:43:10 WIB

BEDELAU.COM --Polda Riau kembali berhasil bongkar pr.

Hukrim

Diduga Usai Duel dengan Teman, Siswa SMK di Pekanbaru Meninggal

Rabu, 22 Juli 2026 - 19:39:37 WIB

BEDELAU.COM --Seorang siswa SMK berinisial MF (17) d.

Hukrim

Bikin Situs Palsu Sumsel Bhayangkara Run 2026, Dua Pria Ditangkap di Pekanbaru

Ahad, 19 Juli 2026 - 18:51:40 WIB

BEDELAU.COM --Subdit V Tindak Pidana Siber Ditreskri.

TULIS KOMENTAR +INDEKS


Terkini

  • +INDEX
Penanaman Serentak Kuartal III Siap Dimulai, Polsek Tandun Tinjau Lahan Jagung
24 Juli 2026
Jumat Berkah Subuh, Kepedulian Sosial Hadir di Meureudu
24 Juli 2026
Bongkar Dua Sindikat Curanmor, Polisi Bekuk 11 Pelaku di Pekanbaru
23 Juli 2026
Dinkes Riau Catat 1.170 Kasus Positif HIV Selama 2025, Dominasi Kelompok LSL
23 Juli 2026
CPO Basahi Jalan Lintas Duri, Polantas Bengkalis Tangani Tabrakan Beruntun 4 Truk Fuso
23 Juli 2026
Abdul Wahid Sebut JPU Jadi "Advokat" Dani, Replik Dinilai Penuh Narasi dan Asumsi
23 Juli 2026
Pemko Pekanbaru Minta Pedagang Kosongkan Jalan Teratai
23 Juli 2026
Kejati Riau Geledah Disdik, Tiga Boks Dokumen Dugaan Korupsi Smart Board Disita
23 Juli 2026
Didominasi LSL, Kasus HIV di Bengkalis Ditemukan Capai 35 Kasus dalam Enam Bulan
22 Juli 2026
Polda Riau Bongkar Praktik Penyalahgunaan BBM Subsidi di Rohil
22 Juli 2026

Terpopuler

  • +INDEX
  • 1 Polisi Selidiki Kericuhan di DPRD Riau, Rekaman CCTV Jadi Bukti Utama
  • 2 Serang Pakai Sajam Saat Disergap, Polisi Tembak Pengedar Ekstasi di Pekanbaru
  • 3 Resahkan Warga, Wako Pekanbaru Perintahkan Satpol PP Segera Tertibkan Tenda Biru di Air Hitam
  • 4 Ditlantas Polda Riau dan BPTD Intensifkan Ramp Check Demi Keselamatan
  • 5 Prabowo Bocorkan Motor Listrik Nasional Segera Meluncur
  • 6 Konflik Parisman dan Eet, BK DPRD Riau Proses Sesuai Kode Etik
  • 7 Kejati Riau Dalami Peran Afrizal Sintong di Kasus Korupsi Dana PI SPRH

Ikuti Kami

Tentang Kami
Redaksi
Pedoman Pemberitaan
Info Iklan
Kontak
Disclaimer

Bedelau.com ©2021 | All Right Reserved