• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
  • Home
  • Opini
  • Advertorial
  • Nasional
  • Daerah
    • Pekanbaru
    • Kampar
    • Pelalawan
    • Siak
    • Bengkalis
    • Dumai
    • Rohul
    • Rohil
    • Inhu
    • Inhil
    • Kuansing
    • Meranti
  • Dunia
  • Politik
  • Ekonomi
  • Peristiwa
  • Pemerintahan
  • More
    • Hukrim
    • Pendidikan
    • Olahraga
    • Video
    • Pilihan Editor
    • Terpopuler
    • Galeri
    • Indeks
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
Masukkan Kata Kunci atau ESC Untuk Keluar

Pilihan

  • +INDEX
Silaturrahmi Akbar, IKA FIA Unilak Gelar Parade Musik dan Lagu
Dibaca : 1e3 Kali
Ketua PWI Riau Buka Resmi Agenda OKK Calon Anggota Baru Tahun 2025
Dibaca : 1e3 Kali
Bupati Bengkalis yang Tak Anti Kritik
Dibaca : 1e3 Kali
Ciri Khas Warna Kuning, Masjid Kuning Miliki Sejarah Panglima Minal
Dibaca : 1e3 Kali
Hasil Putusan PTUN, Posisi Ketua DPRD Bengkalis Dikembalikan kepada Khairul Umam
Dibaca : 1e3 Kali

  • Home
  • Nasional

Mulai Besok Berlaku, Skema Ekspor Satu Pintu Bikin Industri CPO dan Batubara Deg-degan

Redaksi

Ahad, 31 Mei 2026 19:17:47 WIB
Cetak
Mulai Besok Berlaku, Skema Ekspor Satu Pintu Bikin Industri CPO dan Batubara Deg-degan
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto. (sumber: istimewa)

BEDELAU.COM --Ekspor batu bara, minyak sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO), dan ferro alloy memasuki babak baru mulai Senin besok, 1 Juni 2026. Pemerintah menjalankan tahap awal kebijakan ekspor satu pintu melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia atau DSI. 

Nilai tiga komoditas tersebut bukan angka kecil. Sepanjang 2025, kontribusinya mencapai US$66,13 miliar. Angka itu setara 23,4 persen dari total ekspor nasional.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menjelaskan bahwa tahap awal masih berupa masa transisi. Perusahaan tetap melakukan ekspor seperti biasa. Namun setiap transaksi wajib dilaporkan kepada DSI. 

“Implementasi akan berlaku mulai besok, 1 Juni 2026, sampai dengan 31 Mei 2026, yang merupakan periode transisi,” kata Airlangga, Minggu, 31 Mei 2026.

Masa transisi berlangsung selama tiga bulan. Pemerintah menyiapkan evaluasi berkala selama periode tersebut. Hasil evaluasi menjadi dasar kebijakan berikutnya.

Airlangga menegaskan eksportir tidak perlu panik. Aktivitas pengiriman barang tetap berjalan normal. Penyesuaian dilakukan bertahap hingga implementasi penuh.

Pelaporan transaksi menggunakan portal CEISA 4.0. Sistem tersebut disiapkan oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Tujuannya mempermudah proses administrasi. “Para eksportir memiliki waktu cukup untuk melakukan penyesuaian,” ujar Airlangga. 

Tiga Komoditas Penopang Neraca Dagang

Pemerintah memilih tiga komoditas strategis sebagai tahap awal. Ketiganya selama ini menjadi tulang punggung perdagangan Indonesia. Surplus dagang nasional juga banyak ditopang oleh sektor tersebut.

Data pemerintah menunjukkan ekspor batu bara mencapai US$24,48 miliar. Ekspor CPO menyentuh US$24,42 miliar. Sementara ferro alloy mencapai US$16,49 miliar.

Ketiga komoditas itu membantu menjaga surplus perdagangan. Indonesia bahkan mencatat surplus selama 71 bulan beruntun. Capaian tersebut menjadi modal penting bagi ekonomi nasional.

Karena nilainya sangat besar, pemerintah ingin pengawasan lebih kuat. DSI nantinya memantau volume pengiriman. Harga jual dan mekanisme ekspor juga ikut diawasi.

Langkah itu diharapkan meningkatkan transparansi transaksi. Pemerintah juga berharap potensi penerimaan negara semakin optimal. Namun, sejumlah pertanyaan masih bermunculan. 

Beban Baru Pengusaha

Saat pemerintah bicara tata kelola, pelaku industri langsung menghitung angka. Salah satu suara paling keras datang dari sektor batu bara. Komentar itu muncul menjelang hari pertama implementasi.

Hary Kristiono, CEO Ucoal sekaligus pengurus Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi), menilai pekerjaan administrasi DSI bakal sangat besar. Menurutnya, tantangan utama ada pada volume ekspor batu bara Indonesia.

Dengan asumsi ekspor sama seperti tahun lalu, volume ekspor mencapai 536 juta ton. Artinya, rata-rata sekitar 1,5 juta ton per hari. Jumlah itu setara dengan muatan sekitar 23 kapal Panamax setiap hari. “Bagaimana dokumentasinya? Itu akan menjadi pekerjaan administrasi yang sangat besar,” kata Hary Kristiono.

Komentar tersebut langsung menarik perhatian. Sebab angka 23 kapal per hari bukan perkara sederhana. Setiap kapal membawa dokumen, kontrak, pembayaran, dan jadwal berbeda.

Menurut Hary, kompleksitas batu bara jauh lebih tinggi dibandingkan dengan CPO. Produk sawit memiliki karakter lebih seragam. Batu bara justru memiliki ratusan spesifikasi kualitas. Ada perbedaan kalori, kadar sulfur dan merek dan asal tambang.

Situasi itu membuat administrasi menjadi rumit. Kesalahan kecil bisa berdampak besar. Apalagi transaksi berlangsung lintas negara.

Tanda Tanya Kontrak Lama

Komentar lain muncul terkait kontrak yang sudah berjalan. Banyak perusahaan memiliki kesepakatan jangka panjang. Nilainya mencapai miliaran dolar.

Hary mempertanyakan nasib kontrak tersebut. Hingga kini pelaku usaha masih menunggu kejelasan teknis. Terutama soal hubungan kontrak dengan DSI.

Pelaku usaha juga menyoroti mekanisme harga. Sebab harga menjadi faktor utama produksi. Harga menentukan laba, investasi, hingga target penambangan. “Bagaimana dengan pricing mechanism-nya?” tanya Hary Kristiono.

Pertanyaan itu muncul karena DSI nantinya menjadi pusat transaksi. Industri berharap mekanisme harga tetap transparan. Kepastian harga dianggap penting bagi pasar.

Bagi perusahaan tambang, harga menjadi kompas produksi. Jika harga berubah, rencana kerja ikut berubah. Dampaknya bisa menjalar ke banyak sektor. 

Bayang-Bayang Gugatan WTO

Di tengah pembahasan teknis, muncul isu lain yang lebih besar. Isu itu berkaitan dengan perdagangan internasional. Namanya Organisasi Perdagangan Dunia atau WTO.

Hary menilai kebijakan satu pintu berpotensi memicu keberatan. Terutama jika dianggap menciptakan praktik monopoli. Risiko itu menjadi perhatian pelaku usaha. “Karena ini bentuk monopoli, mereka bisa membawa ini ke WTO,” tegas Hary Kristiono.

Kekhawatiran tersebut muncul jika terjadi gangguan kontrak. Risiko bertambah ketika eksportir menyatakan force majeure. Situasi itu bisa membuka ruang sengketa dagang.

Meski begitu, pemerintah tetap melanjutkan program. Tahap awal difokuskan pada pelaporan transaksi. Belum ada kewajiban seluruh transaksi dilakukan melalui DSI.

Danantara Minta Eksportir Melapor

Sementara itu, CEO Danantara, Rosan Perkasa Roeslani, menjelaskan bahwa tahap awal bersifat pelaporan. Eksportir wajib menyampaikan data transaksi secara lengkap. Data tersebut kemudian diverifikasi.

“Nantinya kami akan melihat apakah nilai yang dicantumkan sudah mencerminkan nilai yang wajar,” kata Rosan Perkasa Roeslani.

Verifikasi dilakukan menggunakan acuan pasar global. Tujuannya memastikan harga transaksi sesuai kondisi pasar. Langkah ini disebut untuk memperkuat tata kelola.

Rosan mengatakan platform digital sedang disiapkan. Sistem tersebut menjadi jantung transaksi pada 2027. Semua proses akan terintegrasi secara digital. “Mulai Januari 2027, transaksi ini baru akan diberlakukan melalui platform kami,” ujar Rosan.

Tahap kedua kebijakan dimulai pada 1 September 2026. Pada fase tersebut peran DSI semakin besar. Evaluasi dilakukan setiap tiga bulan.

Potensi Keuntungan Negara

Selain tata kelola, pemerintah berharap penerimaan negara meningkat. Namun, angka pastinya masih belum diketahui. Perhitungan masih berjalan.

Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, mengaku simulasi sudah dilakukan. Namun hasil final belum tersedia. Pemerintah memilih untuk melihat perkembangan implementasi lebih dulu. “Sudah dihitung, tetapi belum ketemu angkanya,” kata Purbaya, Minggu, 31 Mei 2026. 

Menurut Purbaya, tiga bulan pertama menjadi masa penting. Data transaksi akan memberikan gambaran lebih jelas. Dampak ekonomi baru bisa diukur setelah evaluasi. “Jadi tiga bulan dari sekarang baru saya bisa keluar angka yang lebih jelas,” ujarnya.

Batu Bara Tetap Raja Ekspor

Data Kementerian ESDM menunjukkan produksi batu bara pada 2025 mencapai 817,48 juta ton. Angka itu menjadi salah satu yang terbesar di dunia. Indonesia masih menjadi pemain utama di pasar global.

Dari total produksi tersebut, sekitar 523,35 juta ton dialokasikan untuk ekspor. Sebanyak 264,88 juta ton masuk pasar domestik. Sisanya menjadi stok cadangan.

Negara tujuan ekspor tersebar luas. India dan China masih mendominasi pembelian. Jepang, Korea Selatan, Taiwan, Malaysia, Filipina, Thailand, Hong Kong, hingga Spanyol juga menjadi pasar utama.

Meski volume ekspor turun, batu bara tetap menghasilkan devisa besar. Nilai ekspor sepanjang 2025 mencapai US$24,48 miliar. Angka itu masih menjadi salah satu penopang ekonomi nasional.

Kini seluruh mata tertuju pada DSI. Banyak yang menunggu apakah sistem baru ini berjalan mulus. Banyak pula yang menunggu apakah target transparansi benar-benar tercapai.

Mulai Senin, 1 Juni 2026, gerbang baru ekspor Indonesia resmi dibuka. Untuk sementara, eksportir hanya diminta melapor. Namun, di balik laporan itu, sedang berlangsung perubahan besar dalam tata kelola komoditas strategis Indonesia.

 

 

Sumber: SM News.com


[Ikuti Bedelau.com


Bedelau.com

BERITA LAINNYA +INDEKS

Nasional

Puluhan Triliun Denda Sawit Dalam Kawasan Hutan Mengalir ke Pusat, Daerah Penghasil Gigit Jari?

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 22:30:32 WIB

BEDELAU.COM --Ada ironi besar dalam penertiban kawas.

Nasional

Nota Diplomatik, Langkah Terakhir Malaysia Hadapi Asap dari Indonesia

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 22:27:35 WIB

BEDELAU.COM --Pemerintah Malaysia menyebut pengirima.

Nasional

Wow! Mulai Tahun Ini Gaji ASN Dibayarkan Lewat Koperasi Merah Putih

Rabu, 14 Oktober 2026 - 22:49:45 WIB

BEDELAU.COM --Pemerintah berencana mulai menyalurkan.

Nasional

BBM Katanya Aman, Rakyat Malah Mengantre 3 Jam! Ombudsman Bongkar 4 Biang Kerok

Rabu, 14 Oktober 2026 - 22:47:44 WIB

BEDELAU.COM --Bayangkan menghabiskan tiga jam hanya .

Nasional

Dulu Prabowo Tegas Minta Karhutla Jadi Bencana Nasional

Ahad, 11 Oktober 2026 - 19:03:15 WIB

BEDELAU.COM --Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) d.

Nasional

Inilah Enam Jenderal yang Jadi Panglima 6 Kodam Baru Diresmikan Prabowo

Senin, 05 Oktober 2026 - 21:49:04 WIB

BEDELAU.COM --Presiden Prabowo Subianto resmi meresm.

TULIS KOMENTAR +INDEKS


Terkini

  • +INDEX
Hadiri Rakornas TPAKD 2026, Bupati Asmar Dorong Perluasan Akses Keuangan Masyarakat Meranti
23 Oktober 2026
Polres Meranti Bongkar Jaringan Narkoba Internasional, 9,3 Kg Sabu Disita, Hampir 9 Kg Dimusnahkan
23 Oktober 2026
Buron Dua Pekan, Pria Pelaku Pencabulan Anak Ini Akhirnya Ditangkap
21 Oktober 2026
Bisnis Gelap Solar Subsidi di Siak yang Dibongkar Polda Riau, 2 Orang Ditahan
21 Oktober 2026
Usai Didemo, Pemprov Riau akan Pertemukan Mahasiswa Unilak dan UIR dengan Plt Gubri
21 Oktober 2026
BMKG Buka Suara Soal Bau Menyengat di Pekanbaru
21 Oktober 2026
DLHK Cek PLTU Hingga Wilayah Perbatasan, Sumber Aroma Gas di Pekanbaru Masih Misterius
21 Oktober 2026
Bayi Ditemukan di Teras Rumah Pekanbaru, Polisi: Keluarga Diminta Datangi Dinsos
20 Oktober 2026
Demo di Kantor Gubernur Riau, Mahasiswa Unilak Sampaikan Kritik Lewat Puisi
20 Oktober 2026
Kera Diduga Picu Blackout Batam-Bintan, Bareskrim Tetapkan 5 Tersangka
20 Oktober 2026

Terpopuler

  • +INDEX
  • 1 Wow! Mulai Tahun Ini Gaji ASN Dibayarkan Lewat Koperasi Merah Putih
  • 2 SF Hariyanto Sebut Asap Riau Berasal dari Karhutla Sumsel dan Jambi
  • 3 Dulu Prabowo Tegas Minta Karhutla Jadi Bencana Nasional
  • 4 Lapas Pasir Pangarayan dan Tim Gabungan Temukan Kembali Warga Binaan yang Kabur
  • 5 Kabut Asap Karhutla Selimuti Perairan, KSOP Bengkalis Imbau Kapal Waspadai Jarak Pandang
  • 6 PJJ Bukan Libur Jalan-Jalan, Anak Pekanbaru Kini Dikejar Ancaman Asap
  • 7 Antrean BBM Riau Mengular, SF Hariyanto Kini Tagih Pertamina: Jangan Main-Main!

Ikuti Kami

Tentang Kami
Redaksi
Pedoman Pemberitaan
Info Iklan
Kontak
Disclaimer

Bedelau.com ©2021 | All Right Reserved