• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
  • Home
  • Opini
  • Advertorial
  • Nasional
  • Daerah
    • Pekanbaru
    • Kampar
    • Pelalawan
    • Siak
    • Bengkalis
    • Dumai
    • Rohul
    • Rohil
    • Inhu
    • Inhil
    • Kuansing
    • Meranti
  • Dunia
  • Politik
  • Ekonomi
  • Peristiwa
  • Pemerintahan
  • More
    • Hukrim
    • Pendidikan
    • Olahraga
    • Video
    • Pilihan Editor
    • Terpopuler
    • Galeri
    • Indeks
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
Masukkan Kata Kunci atau ESC Untuk Keluar

Pilihan

  • +INDEX
Silaturrahmi Akbar, IKA FIA Unilak Gelar Parade Musik dan Lagu
Dibaca : 1e3 Kali
Ketua PWI Riau Buka Resmi Agenda OKK Calon Anggota Baru Tahun 2025
Dibaca : 1e3 Kali
Bupati Bengkalis yang Tak Anti Kritik
Dibaca : 1e3 Kali
Ciri Khas Warna Kuning, Masjid Kuning Miliki Sejarah Panglima Minal
Dibaca : 1e3 Kali
Hasil Putusan PTUN, Posisi Ketua DPRD Bengkalis Dikembalikan kepada Khairul Umam
Dibaca : 1e3 Kali

  • Home
  • Opini

Ketika Dahan Rapuh Mengira Dirinya Kokoh

Redaksi

Jumat, 07 November 2025 19:14:09 WIB
Cetak
Ketika Dahan Rapuh Mengira Dirinya Kokoh
Oleh: Arfan Yuza. A, Alumni FMIPA UNP dan Mahasiswa Magsiter FKIP UNRI

Ada masa dalam hidup ketika kita merasa telah tumbuh lebih tinggi dari yang lain, padahal akar kita mulai renggang dari tanah. Saat itulah angin datang—bukan untuk menjatuhkan, tapi untuk menguji: apakah kita sungguh kokoh, atau hanya dahan yang menolak menunduk.

Riuh Angin di Antara Dahan yang Berlagak Tegar

Aku pernah berdiri di bawah sebatang pohon tua. Dahan-dahannya menjulur ke langit, seolah hendak menantang takdir. Salah satunya tampak paling sombong karena lengkungnya tinggi, daunnya rimbun, dan setiap kali angin lewat, ia bergoyang dengan percaya diri, seperti sedang memperagakan kekuatannya sendiri.

Aku menatap lama.
Dalam diam, aku melihat sesuatu yang aneh: pada pangkal dahan itu ada retak halus, hampir tak terlihat. Ia tetap tersenyum pada langit, tapi kulit kayunya menyimpan luka kecil yang perlahan merambat ke dalam.

Aku mengenal rasa itu retak yang diam-diam tumbuh di dada sendiri.
Pernah juga aku menjadi seperti dahan itu: merasa cukup kuat untuk menolak nasihat, merasa cukup tinggi untuk tak lagi menoleh ke bawah. Aku lupa bahwa keangkuhan adalah awal dari keruntuhan yang paling sunyi.

Lalu angin datang.
Bukan badai yang menghantam, tapi angin lembut yang menyapa. Ia membawa bisikan yang terdengar seperti sindiran, “Apakah kau lupa siapa yang menopangmu?”

Sejak itu aku belajar: kekuatan sejati tak terletak pada kerasnya kayu, tapi pada kemampuannya lentur saat angin lewat.

Ketika Angin Menjadi Guru yang Tak Bernama

Waktu berjalan, dan pohon itu masih berdiri di tempatnya. Tapi dahan yang dulu sombong kini tampak menunduk karena retaknya membesar, sebagian daunnya gugur. Aku tak lagi melihat kesombongan di sana, hanya keheningan yang mengajarkan.

Aku tersadar, hidup ini tak jauh berbeda.
Kita sering menyangka diri ini kokoh: punya cahaya sendiri, punya bayang yang panjang di tanah, padahal kadang kita hanya dahan yang belum diuji oleh musim.

Angin kehidupan datang dalam rupa yang lembut: kadang sebagai hujan yang menegur, kadang sebagai panas yang memaksa kita berteduh. Ia datang bukan untuk menjatuhkan, melainkan untuk menyingkap bagian diri yang belum siap tumbuh.

Kini setiap kali angin bertiup pelan, aku tak lagi menegangkan diri. Aku biarkan ia lewat, menyisir luka-luka yang masih mengering. Karena aku tahu, selama aku masih mau lentur, aku masih bisa tumbuh.

Dan mungkin, di kejauhan sana, angin itu tersenyum pelan bukan karena ia menang, tapi karena akhirnya aku mengerti bahasa yang dulu hanya bisa ia bisikkan.

Refleksi

Setiap hutan punya dahan yang merasa paling dekat dengan matahari.
Mereka tumbuh dengan pongah, berayun seolah angin tunduk padanya. Tapi waktu selalu punya cara menguji. Kadang, bukan badai besar yang merobohkan, melainkan hujan kecil yang datang diam-diam.

Aku mulai paham, di antara rimbun pohon kehidupan, ada yang menegakkan kepala dengan kesombongan, ada yang menunduk karena kebijaksanaan.
Yang pertama cepat kering, yang kedua perlahan berbuah.

Dan jika suatu hari aku kembali menjadi dahan yang congkak, semoga angin sudi datang lagi bukan untuk menjatuhkan, tapi untuk mengingatkan:
bahwa kokoh bukan berarti tinggi,
melainkan kuat menahan diri saat ingin meninggi.

 


[Ikuti Bedelau.com


Bedelau.com

BERITA LAINNYA +INDEKS

Opini

Di Ambang Batas antara Edukasi dan Eksposisi

Jumat, 14 November 2025 - 19:28:31 WIB

Saya sebenarnya hanyalah seorang guru muda. Jika dibandingkan dengan .

Opini

“Abdul” Tidak Lagi “Wahid”

Selasa, 11 November 2025 - 20:48:31 WIB

“Beliau yang berpantun kini terdiam tidak mampu lagi menuntun, k.

Opini

Pengaruh Kebijakan Perpajakan Terhadap Peningkatan Pendapatan Negara Di Indonesia

Sabtu, 01 November 2025 - 19:24:08 WIB

Latar Belakang Masalah.

Opini

Bangsa yang Tak Membaca, Bangsa yang Mudah Lupa

Kamis, 30 Oktober 2025 - 19:38:45 WIB

Tanggal 22 Oktober 2025 menjadi hari yang berkesan b.

Opini

KKN: Bukan Sekadar Program Rutinitas, tapi Panggilan Pengabdian

Ahad, 20 Juli 2025 - 20:18:09 WIB

BEDELAU.COM --Ketika para mahasiswa turun langsung k.

Opini

"Kedai Kopi: Secangkir kopi dan Hisab yang Terlupa"

Sabtu, 12 Juli 2025 - 22:01:00 WIB

Ada sesuatu yang tenang dalam suara sendok yang beradu dengan cangkir.

TULIS KOMENTAR +INDEKS


Terkini

  • +INDEX
Bukan omon omon Kakek 70 Tahun di Bengkalis Diduga Cabuli 8 Bocah
09 Maret 2026
Arus Mudik-Balik Lebaran: Angkutan Barang Dibatasi di Sejumlah JTTS, Termasuk Tol Permai
09 Maret 2026
Gagal Dapat Adipura, Begini Penjelasan DLHK Pekanbaru
09 Maret 2026
Gegara Knalpot Brong, Pemuda di Inhil Dibacok Tetangga
09 Maret 2026
Rayakan Momen Lebaran Idulfitri, Tol Trans Sumatera Diskon 30 Persen
09 Maret 2026
Kasus Gratifikasi Abdul Wahid Melebar, Ajudan Ikut Jadi Tersangka
09 Maret 2026
Perdana, MPD ICMI Bersama Pemuda ICMI Bengkalis Gelar Silaturahmi Sekaligus Buka Puasa Bersama
09 Maret 2026
Indonesia Didesak Keluar Board Of Peace, Ini Jawaban Kemlu
09 Maret 2026
Siswa di Kuansing Tewas Tertimbun Longsor Bekas Galian PETI
08 Maret 2026
Usai Tabrak Truk Berhenti, Pengendara Motor di Kampar Tewas Terlindas Truk Tangki
08 Maret 2026

Terpopuler

  • +INDEX
  • 1 Indahnya Kebersamaan, Majelis Taklim RW 22 Tebar Takjil dari Sedekah Warga
  • 2 Ternyata Ini Pemicu 11 Gajah Mengamuk di Siak: Berjuang Selamatkan Anak
  • 3 Sat Lantas Polres Bengkalis Antisipasi Balap Liar dan Kejahatan
  • 4 Rem Blong di Jembatan Siak II, Truk Lindas Dua Pengendara Motor
  • 5 Modus Kredit iPhone, Oknum Bhayangkari di Pekanbaru Tipu Puluhan Warga Rp1,5 Miliar
  • 6 11 Gajah Liar Masuk Perumahan Karyawan PT Arara Abadi di Minas
  • 7 Gerak Cepat Wako Agung, Awal Tahun Jalan Rusak di Pekanbaru Mulai Kembali Diperbaiki

Ikuti Kami

Tentang Kami
Redaksi
Pedoman Pemberitaan
Info Iklan
Kontak
Disclaimer

Bedelau.com ©2021 | All Right Reserved