• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
  • Home
  • Opini
  • Advertorial
  • Nasional
  • Daerah
    • Pekanbaru
    • Kampar
    • Pelalawan
    • Siak
    • Bengkalis
    • Dumai
    • Rohul
    • Rohil
    • Inhu
    • Inhil
    • Kuansing
    • Meranti
  • Dunia
  • Politik
  • Ekonomi
  • Peristiwa
  • Pemerintahan
  • More
    • Hukrim
    • Pendidikan
    • Olahraga
    • Video
    • Pilihan Editor
    • Terpopuler
    • Galeri
    • Indeks
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
Masukkan Kata Kunci atau ESC Untuk Keluar

Pilihan

  • +INDEX
Silaturrahmi Akbar, IKA FIA Unilak Gelar Parade Musik dan Lagu
Dibaca : 1e3 Kali
Ketua PWI Riau Buka Resmi Agenda OKK Calon Anggota Baru Tahun 2025
Dibaca : 1e3 Kali
Bupati Bengkalis yang Tak Anti Kritik
Dibaca : 1e3 Kali
Ciri Khas Warna Kuning, Masjid Kuning Miliki Sejarah Panglima Minal
Dibaca : 1e3 Kali
Hasil Putusan PTUN, Posisi Ketua DPRD Bengkalis Dikembalikan kepada Khairul Umam
Dibaca : 1e3 Kali

  • Home
  • Opini

Di Ambang Batas antara Edukasi dan Eksposisi

Redaksi

Jumat, 14 November 2025 19:28:31 WIB
Cetak
Di Ambang Batas antara Edukasi dan Eksposisi
Oleh : Arfan Yuza. A (Alumni FMIPA Universitas Negeri Padang dan Mahasiswa Magister FKIP Universitas Riau)

Saya sebenarnya hanyalah seorang guru muda. Jika dibandingkan dengan guru-guru senior yang sudah puluhan tahun mengajar, pengalaman saya masih sangat sedikit. Jam terbang saya belum seberapa, dan saya masih sering belajar dari mereka tentang bagaimana menghadapi siswa, bagaimana bersikap, bagaimana mengajar dengan benar.

Namun, sebagai guru muda yang sehari-hari berhadapan dengan karakter dan kebiasaan generasi sekarang, saya punya sudut pandang yang ingin saya bagikan terutama soal fenomena konten viral di sekolah.

Belakangan ini perhatian siswa benar-benar berubah. Mereka lebih cepat terpikat oleh hiburan singkat di media sosial daripada fokus pada pelajaran. Mereka hafal trend, gaya, dan bahkan transisi baru dalam konten viral, tetapi kadang lupa apa yang baru saja dijelaskan di depan kelas. Dunia mereka bergerak cepat, penuh stimulus yang gampang membuat pikiran melompat dari satu hal ke hal lainnya.

Yang membuat saya semakin berpikir panjang adalah ketika ada guru yang ikut masuk ke arus itu, dengan alasan ingin dekat dengan murid.
Saya sering mendengar kalimat seperti, “Biar nyambung dengan mereka, kita ikuti saja tren kontennya.”

Sekilas, ini terdengar sebagai bentuk pendekatan modern. Tapi makin saya amati, makin terasa ada batas yang mulai kabur.

Kelas yang seharusnya menjadi ruang belajar kadang berubah menjadi tempat membuat konten. Murid jadi aktor, guru jadi rekan tampil. Suasana memang terlihat akrab dan menyenangkan, tapi ada rasa hening pendidikan yang pelan-pelan hilang.

Sebagai guru muda, saya tentu paham bahwa kita juga ingin disukai murid. Kita ingin dianggap dekat, relevan, dan tidak ketinggalan zaman. Namun justru di sini saya ingin menyampaikan opini pribadi saya, opini yang mungkin sederhana, tapi lahir dari kegelisahan kecil saat melihat perubahan dinamika di kelas.

Menurut saya, guru boleh saja mengikuti tren konten apa pun di media sosial. Itu hak pribadi, dan saya pun kadang menikmati konten-konten itu.
Tetapi satu hal yang perlu dijaga adalah: jangan membawa profesi seorang guru ke dalam konten tersebut.

Jangan membawa atribut mengajar.
Jangan memakai murid sebagai pemeran.
Jangan menjadikan ruang kelas sebagai panggung hiburan.

Begitu batas profesi dibawa masuk ke ranah konten, posisi guru bisa tergeser dari pendidik menjadi performer. Murid yang seharusnya dibimbing bisa berubah menjadi objek tontonan. Dan wibawa yang semula terbangun dari keteladanan, lama-lama bisa larut dalam budaya tampil.

Padahal, siswa butuh figur dewasa yang bisa menjadi jangkar ketika dunia mereka penuh gangguan. Mereka butuh seseorang yang menunjukkan bahwa tidak semua hal harus direkam. Tidak semua momen perlu dijadikan konten. Tidak semua interaksi harus dibungkus hiburan.

Guru, saya percaya, tetap boleh bersenang-senang, menikmati hiburan, dan mengikuti tren. Tapi profesi guru punya martabat yang sebaiknya tidak dibawa ke ruang hiburan tersebut.

Pada akhirnya, kelas tetap membutuhkan pendidik, bukan kreator konten.
Siswa membutuhkan bimbingan, bukan sorotan kamera.
Dan guru, meski muda atau senior, tetap memiliki tanggung jawab menjaga batas itu.

Saya masih belajar menjadi guru yang baik. Tetapi dari yang sedikit ini, saya yakin satu hal: guru boleh mengikuti tren, tapi jangan sampai profesinya ikut hanyut di dalamnya.

 


[Ikuti Bedelau.com


Bedelau.com

BERITA LAINNYA +INDEKS

Opini

“Abdul” Tidak Lagi “Wahid”

Selasa, 11 November 2025 - 20:48:31 WIB

“Beliau yang berpantun kini terdiam tidak mampu lagi menuntun, k.

Opini

Ketika Dahan Rapuh Mengira Dirinya Kokoh

Jumat, 07 November 2025 - 19:14:09 WIB

Ada masa dalam hidup ketika kita merasa telah tumbuh lebih tinggi dari yang lain, padahal.

Opini

Pengaruh Kebijakan Perpajakan Terhadap Peningkatan Pendapatan Negara Di Indonesia

Sabtu, 01 November 2025 - 19:24:08 WIB

Latar Belakang Masalah.

Opini

Bangsa yang Tak Membaca, Bangsa yang Mudah Lupa

Kamis, 30 Oktober 2025 - 19:38:45 WIB

Tanggal 22 Oktober 2025 menjadi hari yang berkesan b.

Opini

KKN: Bukan Sekadar Program Rutinitas, tapi Panggilan Pengabdian

Ahad, 20 Juli 2025 - 20:18:09 WIB

BEDELAU.COM --Ketika para mahasiswa turun langsung k.

Opini

"Kedai Kopi: Secangkir kopi dan Hisab yang Terlupa"

Sabtu, 12 Juli 2025 - 22:01:00 WIB

Ada sesuatu yang tenang dalam suara sendok yang beradu dengan cangkir.

TULIS KOMENTAR +INDEKS


Terkini

  • +INDEX
Hadiri Rakornas TPAKD 2026, Bupati Asmar Dorong Perluasan Akses Keuangan Masyarakat Meranti
23 Oktober 2026
Polres Meranti Bongkar Jaringan Narkoba Internasional, 9,3 Kg Sabu Disita, Hampir 9 Kg Dimusnahkan
23 Oktober 2026
Buron Dua Pekan, Pria Pelaku Pencabulan Anak Ini Akhirnya Ditangkap
21 Oktober 2026
Bisnis Gelap Solar Subsidi di Siak yang Dibongkar Polda Riau, 2 Orang Ditahan
21 Oktober 2026
Usai Didemo, Pemprov Riau akan Pertemukan Mahasiswa Unilak dan UIR dengan Plt Gubri
21 Oktober 2026
BMKG Buka Suara Soal Bau Menyengat di Pekanbaru
21 Oktober 2026
DLHK Cek PLTU Hingga Wilayah Perbatasan, Sumber Aroma Gas di Pekanbaru Masih Misterius
21 Oktober 2026
Bayi Ditemukan di Teras Rumah Pekanbaru, Polisi: Keluarga Diminta Datangi Dinsos
20 Oktober 2026
Demo di Kantor Gubernur Riau, Mahasiswa Unilak Sampaikan Kritik Lewat Puisi
20 Oktober 2026
Kera Diduga Picu Blackout Batam-Bintan, Bareskrim Tetapkan 5 Tersangka
20 Oktober 2026

Terpopuler

  • +INDEX
  • 1 Wow! Mulai Tahun Ini Gaji ASN Dibayarkan Lewat Koperasi Merah Putih
  • 2 SF Hariyanto Sebut Asap Riau Berasal dari Karhutla Sumsel dan Jambi
  • 3 Dulu Prabowo Tegas Minta Karhutla Jadi Bencana Nasional
  • 4 Lapas Pasir Pangarayan dan Tim Gabungan Temukan Kembali Warga Binaan yang Kabur
  • 5 Kabut Asap Karhutla Selimuti Perairan, KSOP Bengkalis Imbau Kapal Waspadai Jarak Pandang
  • 6 PJJ Bukan Libur Jalan-Jalan, Anak Pekanbaru Kini Dikejar Ancaman Asap
  • 7 Antrean BBM Riau Mengular, SF Hariyanto Kini Tagih Pertamina: Jangan Main-Main!

Ikuti Kami

Tentang Kami
Redaksi
Pedoman Pemberitaan
Info Iklan
Kontak
Disclaimer

Bedelau.com ©2021 | All Right Reserved