• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
  • Home
  • Opini
  • Advertorial
  • Nasional
  • Daerah
    • Pekanbaru
    • Kampar
    • Pelalawan
    • Siak
    • Bengkalis
    • Dumai
    • Rohul
    • Rohil
    • Inhu
    • Inhil
    • Kuansing
    • Meranti
  • Dunia
  • Politik
  • Ekonomi
  • Peristiwa
  • Pemerintahan
  • More
    • Hukrim
    • Pendidikan
    • Olahraga
    • Video
    • Pilihan Editor
    • Terpopuler
    • Galeri
    • Indeks
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
Masukkan Kata Kunci atau ESC Untuk Keluar

Pilihan

  • +INDEX
Silaturrahmi Akbar, IKA FIA Unilak Gelar Parade Musik dan Lagu
Dibaca : 1e3 Kali
Ketua PWI Riau Buka Resmi Agenda OKK Calon Anggota Baru Tahun 2025
Dibaca : 1e3 Kali
Bupati Bengkalis yang Tak Anti Kritik
Dibaca : 1e3 Kali
Ciri Khas Warna Kuning, Masjid Kuning Miliki Sejarah Panglima Minal
Dibaca : 1e3 Kali
Hasil Putusan PTUN, Posisi Ketua DPRD Bengkalis Dikembalikan kepada Khairul Umam
Dibaca : 1e3 Kali

  • Home
  • Opini

Pemberdayaan Dosen Perguruan Tinggi

Redaksi

Selasa, 04 Juli 2023 16:45:02 WIB
Cetak
Pemberdayaan Dosen Perguruan Tinggi
Dr. Eddy Asnawi Dosen Fakultas Hukum dan Magister Hukum Universitas Lancang Kuning

Dalam jamuan makan  malam,  sambil menikmati secangkir kopi  dengan beberapa teman sejawat dosen yang sudah lama tak bersua, kami pun larut berbagi cerita tentang berbagi pengalaman yang berbeda di Perguruan Tinggi (PT) masing-masing dimana tempat kami mengabdi. Perbincangan kami, mengalir dengan suasana santai. Ceritanya satu titik yang sama, sampai dimana perjalanan dan aktivitas sebagai orang kampus yang sudah sekian lama dilakoni. Dari diskusi itu, satu isu yang menarik buat saya adalah terkait dengan pemberdayaan dosen di PT. Sehingga ketika kami berpisah dari pertemuan itu,  saya menarasikan  diskusi itu dalam sebuah tulisan yang hadir di sidang pembaca hari ini.

Sebagai pembuka diskusi, sejawat saya yang mumpuni di bidang manajemen organisasi, menjelaskan bahwa  pemberdayaan itu  menjadi pintu keberhasilan pencapaian visi, misi, dan tujuan organisasi. Oleh karenanya pemberdayaan itu menjadi bernilai penting bagi efektivitas sebuah organisasi.  Pemberdayaan merupakan sebuah strategi organisasi untuk menginspirasi dan memotivasi para anggota organisasi melakukan sejumlah kontribusi yang memberikan manfaat bagi organisasi, di mana kontribusi tersebut diharapkan akan diganjar dengan pengakuan, apresiasi, dan nilai oleh pimpinan organisasi.

Dalam konteks organisasi di PT, dosen merupakan anggota organisasi yang paling penting untuk diberdayakan secara optimal. Tugas utama dosen adalah tridharma PT (pengajaran, penelitian, dan pengabdian), ditambah dengan tugas-tugas penunjang dan administratif lainnya. Sebagian kecil dosen diamanahkan dengan tugas tambahan, mulai dari rektor, dekan, ketua jurusan, program studi hingga unit-unit akademik yang terdapat dalam struktur organisasi kampus yang bersangkutan. Perlu dicatat bahwa pengoperasian sebuah Universitas,  tentunya membutuhkan sejumlah sarana dan teknologi bantuan. Seperti halnya, sistem penerimaan mahasiswa baru, pelaporan akademik, evaluasi dan audit, konsultasi hukum dan kearsipan, sistem informasi manajemen dan akuntansi, sistem administrasi, jaringan internet, pelatihan/pendampingan peningkatan kompetensi, dan lain sebagainya yang sebagai satu kesatuan membentuk rantai operasional Universitas.

Pertanyaannya kemudian “Siapa yang akan menyediakan dan mengoperasikan sarana dan teknologi-teknologi pendukung tersebut?” Idealnya, ketika sebuah universitas memiliki sejumlah program studi yang relevan dengan sarana dan teknologi yang dibutuhkan, maka seharusnya para dosen dari program studi tersebut yang diberdayakan untuk melakukannya. Bukan sebaliknya, pekerjaaan/proyek itu  justru diberikan kepada pihak luar dengan berbagai alasan. Misalnya, kompetensi dosen yang tidak memadai, tidak ada dosen yang bersedia, ketidakpercayaan pimpinan akan kemampuan SDM yang tersedia, hingga kepada alasan oportunis,  seperti halnya adanya kick back atau komisi dari pihak luar yang diterima pihak tertentu menangani proyek tersebut.

Lalu, saya katakan sedikit bergaya filusuf, bahwa  paradigma kampus seharusnya menjadi  milik bersama dan dibangun bersama dengan spirit kemandirian untuk berkarya dengan mengoptimalisasikan kemampuan SDM yang ada, harus menjadi poros utama dalam pengembangan kampus dengan memanfaatkan jejaring yang ada.  Ketika asumsi yang dibangun masih meragukan kompetensi dosen kita yang lemah. Maka pertanyaannya kembali ke pangkal. Apakah benar dosen yang sudah diterima menjadi pendidik dan peneliti di sebuah universitas ternyata tidak kompeten? Jika pun itu benar, maka hanya ada 2(dua) alasan mengapa itu terjadi. Pertama, proses rekrutmen dosen yang dilakukan tidak semestinya; kedua, proses pembinaan dan pengembangan kompetensi dosen yang tidak berjalan efektif. Atau sebaliknya dipengaruhi suasana atmosfir akademik kampus yang tidak kondusif sehingga melahirkan  pragmatisme sikap yang apatis, sehingga membawa pengaruh terhadap kinerja dosen yang tidak bersedia berkontribusi.

Menariknya dari diskusi ngopi-ngopi itu, ada faktor para dosen kompeten menolak untuk membantu, yakni: penghargaan material dan pengakuan. Keluhan bersifat finansial yang sering muncul adalah, “pimpinan mau membayar orang luar mahal, tapi ke dosen sendiri yang kemampuannya setara, atau bahkan lebih baik, justru dibayar murah!” Sebagian dosen lain menyatakan, sebenarnya jika memang kondisi finansial kampus tidak memadai, mereka bersedia membantu. Namun, seringkali bantuan tersebut tidak diapreasiasi dalam bentuk pengakuan, bahkan justru lebih bersifat perintah. Padahal dalam konteks organisasi kolegial seperti perguruan tinggi di mana dosen dan pimpinan adalah mitra setara, figur pimpinan yang dicari oleh para dosen adalah sosok teman, bukan majikan. Bahkan tidak jarang, keberhasilan para dosen kompeten yang membantu tersebut justru diklaim sebagai keberhasilan oknum pimpinan tertentu. Hal-hal seperti inilah yang kerap menjadi kekecewaan sejumlah dosen kompeten sehingga memilih untuk “tiarap” dari radar pimpinan perguruan tinggi; terlebih lagi jika “proyek-proyek” tersebut sesungguhnya lebih bersifat ambisi dan kepentingan pribadi oknum pimpinan daripada untuk kepentingan kampus.

Yang perlu dilakukan adalah kemampuan pimpinan mengidentifikasi dan menginventarisir berbagai kompetensi yang dimiliki oleh para dosennya, kemudian memetakan berbagai potensi tersebut untuk disesuaikan dengan kebutuhan pelaksanaan berbagai “proyek” yang akan dilaksanakan oleh perguruan tinggi. Ketika berbicara “proyek” maka kalkulasinya tentu adalah professional, baik dari sisi kualitas maupun kompensasinya. Adalah wajar jika kompetensi dosen dihargai setara atau setidaknya tidak terlalu rendah—dengan kompensasi yang harus dibayarkan kepada pihak luar dengan kualitas pekerjaan yang sama. Jika pun sebuah proyek belum mampu dilakukan secara mandiri oleh para dosen, setidaknya pimpinan perguruan tinggi perlu menyusun kontrak kerja dengan pihak luar dengan menyertakan pasal terkait transfer teknologi. Dengan begitu, dalam periode waktu tertentu, para dosen internal bisa memiliki kemampuan untuk merancang dan mengoperasikan sendiri teknologi tersebut.

Dalam berbagi pengalaman, rekan sejawat memberikan contohnya dalam sistem informasi akademik dan jaringan internet. Kontrak dengan pihak luar perlu dibatasi waktu dan jika memungkinkan perlu melakukan transfer teknologi kepada universitas yang menjadi kliennya. Dalam hal ini, jika universitas memiliki fakultas ilmu komputer, maka bisa mempersiapkan diri dalam jangka waktu tertentu untuk men-take over proyek tersebut. Contoh lain juga bisa diterapkan dalam sistem kearsipan perguruan tinggi. Aspek ini menjadi sangat krusial, bahkan kerap menjadi salah satu alasan mengapa sebuah program studi gagal mendapatkan akreditasi terbaik karena lemahnya sistem pengarsipan. Dalam konteks ini, jika sebuah universitas memiliki fakultas atau program studi perpustakaan, bisa menjadikan para dosennya sebagai konsultan, tenaga teknis, mentor, maupun operator sistem kearsipan di seluruh fakultas. Dengan modernisasi dan sentralisasi arsip ini maka sangat penting untuk kebutuhan akreditasi, Sejumlah pekerjaan lain juga bisa menjadi contoh pemberdayaan dosen seperti desain bangunan, konstruksi, studi kelayakan, naskah akademik, tenaga ahli , konsultan dan lain sebagainya sesuai dengan program studi yang tersedia pada masing-masing fakultas di Universitas.

Akhir kata, pemberdayaan membutuhkan apreasiasi dari pimpinan, baik secara finansial maupun psikologis berupa pengakuan akan aktualisasi. Jika bukan pimpinan perguruan tinggi yang menghargai kompetensi dan kontribusi para dosennya, lantas siapa lagi?

Surabaya, 3 Juli 2023


 

 


[Ikuti Bedelau.com


Bedelau.com

BERITA LAINNYA +INDEKS

Opini

Di Ambang Batas antara Edukasi dan Eksposisi

Jumat, 14 November 2025 - 19:28:31 WIB

Saya sebenarnya hanyalah seorang guru muda. Jika dibandingkan dengan .

Opini

“Abdul” Tidak Lagi “Wahid”

Selasa, 11 November 2025 - 20:48:31 WIB

“Beliau yang berpantun kini terdiam tidak mampu lagi menuntun, k.

Opini

Ketika Dahan Rapuh Mengira Dirinya Kokoh

Jumat, 07 November 2025 - 19:14:09 WIB

Ada masa dalam hidup ketika kita merasa telah tumbuh lebih tinggi dari yang lain, padahal.

Opini

Pengaruh Kebijakan Perpajakan Terhadap Peningkatan Pendapatan Negara Di Indonesia

Sabtu, 01 November 2025 - 19:24:08 WIB

Latar Belakang Masalah.

Opini

Bangsa yang Tak Membaca, Bangsa yang Mudah Lupa

Kamis, 30 Oktober 2025 - 19:38:45 WIB

Tanggal 22 Oktober 2025 menjadi hari yang berkesan b.

Opini

KKN: Bukan Sekadar Program Rutinitas, tapi Panggilan Pengabdian

Ahad, 20 Juli 2025 - 20:18:09 WIB

BEDELAU.COM --Ketika para mahasiswa turun langsung k.

TULIS KOMENTAR +INDEKS


Terkini

  • +INDEX
Bukan omon omon Kakek 70 Tahun di Bengkalis Diduga Cabuli 8 Bocah
09 Maret 2026
Arus Mudik-Balik Lebaran: Angkutan Barang Dibatasi di Sejumlah JTTS, Termasuk Tol Permai
09 Maret 2026
Gagal Dapat Adipura, Begini Penjelasan DLHK Pekanbaru
09 Maret 2026
Gegara Knalpot Brong, Pemuda di Inhil Dibacok Tetangga
09 Maret 2026
Rayakan Momen Lebaran Idulfitri, Tol Trans Sumatera Diskon 30 Persen
09 Maret 2026
Kasus Gratifikasi Abdul Wahid Melebar, Ajudan Ikut Jadi Tersangka
09 Maret 2026
Perdana, MPD ICMI Bersama Pemuda ICMI Bengkalis Gelar Silaturahmi Sekaligus Buka Puasa Bersama
09 Maret 2026
Indonesia Didesak Keluar Board Of Peace, Ini Jawaban Kemlu
09 Maret 2026
Siswa di Kuansing Tewas Tertimbun Longsor Bekas Galian PETI
08 Maret 2026
Usai Tabrak Truk Berhenti, Pengendara Motor di Kampar Tewas Terlindas Truk Tangki
08 Maret 2026

Terpopuler

  • +INDEX
  • 1 Indahnya Kebersamaan, Majelis Taklim RW 22 Tebar Takjil dari Sedekah Warga
  • 2 Ternyata Ini Pemicu 11 Gajah Mengamuk di Siak: Berjuang Selamatkan Anak
  • 3 Sat Lantas Polres Bengkalis Antisipasi Balap Liar dan Kejahatan
  • 4 Rem Blong di Jembatan Siak II, Truk Lindas Dua Pengendara Motor
  • 5 Modus Kredit iPhone, Oknum Bhayangkari di Pekanbaru Tipu Puluhan Warga Rp1,5 Miliar
  • 6 11 Gajah Liar Masuk Perumahan Karyawan PT Arara Abadi di Minas
  • 7 Gerak Cepat Wako Agung, Awal Tahun Jalan Rusak di Pekanbaru Mulai Kembali Diperbaiki

Ikuti Kami

Tentang Kami
Redaksi
Pedoman Pemberitaan
Info Iklan
Kontak
Disclaimer

Bedelau.com ©2021 | All Right Reserved